Main Menu
Home
About DOJCC
Jadwal Rutin DOJ Bali
DOJ Bali News
International DOJ News
Youth DOJ Bali
Daily Word
Photo Gallery
Photo on Multiply
DOJ Video
Guest Book
Visit DOJ International
100 Photo Comments
Calendar Events
Contact Us
Shout It!


You must login/register to shout!
Get your account here!
Upcoming Events
There are no upcoming events!
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
Who's Online
Hits Counter
Visitors: 151954
Photo Gallery

REKREK_023.jpg
 

2nd_DOJ_Birthday_25.JPG
 

REKREK_039.jpg
 

Luke 18 (1).JPG
 

2nd_DOJ_Birthday_03.JPG
Home arrow Daily Word arrow Injil Minggu Biasa XXVI B 1 Oktober 2006
Injil Minggu Biasa XXVI B 1 Oktober 2006 PDF Print E-mail
Written by A. Gianto at Tuesday, 03 October 2006 (490 hits)
Injil Minggu Biasa XXVI B 1 Oktober 2006 (Mrk 9:38-43.45.47-48)

KESERAGAMAN ATAU KERAGAMAN DI DALAM MENGIKUTI DIA?
  

Rekan-rekan yang budiman!

Suatu ketika salah seorang murid Yesus, Yohanes, bercerita kepada guru mereka bahwa mereka melihat orang yang mengeluarkan setan demi nama Yesus. Langsung Yohanes mencegahnya mengingat orang itu bukan salah satu dari pengikut para murid Yesus. 


Murid ini berpendapat bahwa siapa saja yang mau menjalankan hal-hal yang baik mestinya bergabung dulu dengan kelompok para pengikut Yesus yang sudah mapan seperti para murid terdekat tadi. Bukan sendiri-sendiri. Yohanes mengatakan "bukan pengikut kita". Agak terasa adanya pendapat bahwa mengikuti Yesus hanya dapat dijalani bersama dengan para murid Yesus. Seolah-olah mereka itu satu-satunya agen penyalur. Rupa-rupanya Yohanes berpikir dalam kerangka "keseragaman" dan tidak melihat nilai "keragaman" di antara para pengikut Yesus. Bisa gagasan ini berlanjut pada pendapat bahwa Gereja itu satu-satunya ujud menjadi murid Yesus. Soal pelik. Ini menyangkut integritas iman.


MENGIKUTI YESUS DAN HIDUP MENGGEREJA

Minggu lalu kita dengar bahwa barangsiapa dapat menghargai orang yang belum bisa berkata telah berbuat banyak ("anak kecil") sama dengan menerima Yesus sendiri, dan sebetulnya menerima Bapanya yang mengutusnya (Mrk 9:36-37). Diajarkannya bahwa mengikutinya hendaknya tidak dipandang dari dengan besarnya jasa atau banyaknya sumbangan, melainkan dengan keluguan. Dalam petikan bagi hari Minggu ini, pokok mengenai menjadi pengikut Yesus tampil kembali. Apakah mengikut Yesus berarti mesti ikut kelompok murid-muridnya? Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, apalagi bila kelompok murid Yesus langsung kita samakan dengan Gereja. Pertanyaannya berkembang: apakah mengikuti Yesus mesti terjadi dengan menjadi anggota Gereja? Lalu Gereja mana? Tidak semua akan dipecahkan di sini karena persoalan yang ditampilkan dalam Injil hari ini tidak dapat dijabarkan begitu ke keadaan masa kini. Namun, kita dapat berusaha memahami prinsip-prinsip yang dikemukakan Yesus di sini dan yang kiranya diikuti oleh komunitas pertama dulu.

Dalam episode ini kita ikuti bagaimana Yesus meluruskan pendapat Yohanes. Dilebarkannya juga pandangan para murid. Mereka diajarnya agar tidak melihat diri mereka sebagai kelompok pusat dalam umat. Janganlah mereka menganggap orang-orang yang belum atau tidak bergabung dengan mereka bukan pengikut Yesus. Dengan kata lain, mereka diajak menyadari ada orang-orang yang mau menerima Yesus dan mengikutinya walaupun tidak jelas-jelas bergabung dengan para murid terdekat itu. Yang menjadi ukuran bagi pengikut Yesus kiranya bukanlah keseragaman dengan para murid tadi, melainkan keselarasan dengan Yesus, dengan pengutusan yang dijalaninya. Dan keselarasan ini bisa bermacam-macam ujudnya, bisa memuat keragaman.

Ada tiga pokok ajaran yang terungkapi dalam ay . 39-42. Dalam ay. 39 diajaknya para murid menumbuhkan kelonggaran hati. Dikatakannya tentang orang yang mengeluarkan setan tapi bukan pengikut mereka, "Jangan kamu cegah dia, sebab tidak ada seorang pun yang telah mengerjakan mukjizat demi namaku dapat seketika itu juga mengumpat aku." Bagi Yesus orang itu jelas-jelas menjadi pengikutnya. Para murid Yesus, juga yang paling dekat sekalipun, diminta agar longgar hati menghargai keragaman.

Kemudian dalam ay. 40 dituntunnya para murid supaya sampai pada keyakinan bahwa "Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita." Ada soal bahasa yang agak pelik. Tetapi bisa dirumuskan dengan sederhana bahwa yang dimaksud dengan kata "kita" di situ ialah murid-murid sendiri yang boleh jadi mempertengkarkan perkara tadi. Bukan Yesus bersama dengan murid-murid. Jadi ia memakai kata "kira" untuk membahasakan keyakinan yang mesti dipupuk para murid. Mereka diharapkannya bisa bertindak sebagai orang besar sejati. Tidak merasa terancam oleh orang yang mengerjakan hal serupa tapi tidak bergabung dengan mereka. Dengan bahasa zaman kita sekarang, mereka diharap agar berani ikut kompetisi sehat.

Selanjutnya, dalam ay. 41 ada himbauan agar para murid memandangi diri dengan cara yang benar. Mereka sebenarnya memberi banyak kepada siapa saja yang berbuat kebaikan sekecil apapun kepada mereka. Tetapi mereka itu mendatangkan pahala bagi orang lain...bukan karena diri mereka sendiri, melainkan karena mereka itu adalah pengikutnya. Menjadi pengikut Kristus, itulah yang membawakan keselamatan bagi orang lain, bukan menjadi pengikut para murid. Cocok dengan ajaran agar tidak mencari kedudukan, menginginkan status tinggi dalam umat, tidak menginginkan diri jadi pusat. Ayat ini sebenarnya ungkapan akan apa yang nyata-nyata diyakini umat awal seperti jelas dengan ungkapan "karena kamu adalah pengikut Kristus" - Yesus sendiri dalam hidupnya tidak pernah menyebut diri Kristus atau Mesias; ia memakai sebutan Anak Manusia.

Akhirnya, dalam ay. 42 para murid diminta agar memiliki rasa tanggung jawab besar terhadap orang-orang yang hendak mengikuti Yesus secara tulus - ayat ini menggambarkan orang-orang itu sebagai "anak kecil" sejalan dengan pemakaian kata itu dalam Mrk 9:36-37 yang ikut dibacakan hari Minggu lalu. Jangan sampai mereka dibiarkan "berbuat dosa" oleh para murid yang merasa lebih dekat dengan Yesus. Persoalan yang tampil dalam penerapan ayat ini bagi zaman ini tentunya siapa yang murid dekat dan siapa pengikut Yesus pada umumnya itu. Dalam menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci bagi kehidupan masa kini sebaiknya dibuat penerapan yang luwes dan tidak kaku, jadi "para murid terdekat" tak usah membuat orang ingat akan para pemimpin Gereja, para pastor melulu, dan sebaliknya "anak kecil" tak perlu dibatasi pada umat.

Yesus menekankan bahwa siapa saja yang merasa sudah dekat padanya, sudah masuk ke dalam kelompok murid terdekat, hendaklah ia memikirkan kesejahteraan mereka yang masih belajar, masih mencoba menemukan jalan mendekat kepada Kabar Gembira yang dibawakan Yesus. Inilah kenyataan ikut serta dalam perutusan dan pengutusan Yesus. Inilah kekuatan yang menghidukan Gereja. Membiarkan orang yang sedang jalan kepadanya "berdosa" - kata asli yang dipakai harfiahnya berarti "tersandung jatuh" - adalah keburukan besar. Sanksinya lebih berat daripada orang yang ditenggelamkan ke dalam laut, dengan batu giling yang diikatkan ke lehernya. Dasar laut ialah wilayah kekuatan-kekuatan maut. Ditenggelamkan ke sana berarti diserahkan pada kuasa maut, tanpa kemungkinan naik karena pada leher diikatkan batu giling. Dan hal itu dikatakan lebih baik daripada murid yang membiarkan orang jatuh tersandung!  Tak usah Injil hari ini membuat kita-kita yang diserahi mendampingi umat merasa diancam. Sebaliknyalah, kita makin melihat betapa berartinya orang-orang yang telah dipercayakan kepada kita. Bagaimana kita bisa dipercaya begitu besar? Baiklah kita lihat bagian selanjutnya.

TANTANGAN BAGI INTEGRITAS

Dalam bagian berikutnya, ay. 43-48, diperdengarkan beberapa petuah keras agar tidak membiarkan diri sendiri tersandung. Jadi tanggung jawab bukan saja terhadap keadaan orang lain, melainkan juga bagi diri sendiri. Wajar. Orang yang dapat menjaga diri tentunya dapat menolong orang lain. Cara penyampaiannya amat konkret. Bila lengan menyebabkan diri jatuh dalam tindakan yang merugikan diri maka lebih baik dipenggal saja, begitu juga kaki, demikian pula mata. Dikatakan lebih baik hidup dengan satu lengan, berjalan timpang, atau buta sebelah daripada terjerumus ke dalam neraka. Bagaimana memahami petuah-petuah keras ini? Jelas bukan secara harfiah. Sekali lagi yang penting ialah melihat dasar pemikiran yang dikemukakan di sini. Para murid diminta menyadari bahwa kehidupan dan Kerajaan Allah patut menjadi pilihan dasar.

Dalam ay. 49 diberikan sebuah pepatah yang agak aneh: "(Karena) setiap orang akan digarami dengan api."  Digarami di sini berarti diasinkan sehingga awet. Tetapi pengawetan di sini dilakukan dengan api, dengan nyala dan panas yang bakal membersihkan semua yang bersifat campuran sehingga sisanya nanti hanya yang murni. Apa yang dimurnikan dengan api? Integritas sebagai murid -  kejujuran serta keluguan dalam mengikuti Yesus - akan dimurnikan sehingga nanti yang keluar ialah murid yang tahan uji, dan yang bakal dapat mengasinkan orang banyak - tidak sekali-sekali membiarkan hambar dan tak tahan lama.

Pada akhir petikan ini diberikan himbauan agar dalam diri murid selalu ada "garam" tadi. Tentunya yang dimaksud ialah agar mereka senantiasa mampu mengawetkan diri sendiri dan juga orang lain. Bila demikian maka hidup dalam damai satu sama lain akan menjadi kenyataan. Kalimat terakhir dalam petikan ini mengungkapkan hasil dari adanya daya pengawet dalam kehidupan batin para murid. Tanpa itu, tanpa integritas, akan sulitlah ada hidup damai di antara para murid.

Injil hari ini mulai dengan perkiraan para murid bahwa mengikuti Yesus baru bisa terjadi bila orang mau menggabungkan diri dengan mereka. Tapi Yesus tidak membenarkannya. Ia malah menegaskan betapa berharganya orang yang menjadi pengikut Yesus, siapa saja, termasuk para murid dekat atau di luar kalangan itu. Dan mereka yang merasa sudah lebih dekat dengannya dimintanya agar memperhatikan orang-orang yang mau mengikutinya. Kesetiaan pada tanggung jawab ini tanda kejujuran murid sang guru dan menjadi ukuran bagi integritas Gereja di dunia ini.

Salam dari Wisma Emaus,

A. Gianto


(sumber : http://mirifica.net)

Comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot )

Last Updated ( Tuesday, 03 October 2006 )
 
< Prev   Next >