Main Menu
Home
About DOJCC
Jadwal Rutin DOJ Bali
DOJ Bali News
International DOJ News
Youth DOJ Bali
Daily Word
Photo Gallery
Photo on Multiply
DOJ Video
Guest Book
Visit DOJ International
100 Photo Comments
Calendar Events
Contact Us
Shout It!


You must login/register to shout!
Get your account here!
Upcoming Events
There are no upcoming events!
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
Who's Online
Hits Counter
Visitors: 151941
Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit PDF Print E-mail
Written by Rm.I. Sumarya, S.J at Friday, 06 October 2006 (181 hits)

Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit

(Ayb19:21-27 ; Luk10:1-12)


“Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk10:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • “Madecer” = Masa depan cerah, itulah kiranya gambaran akan apa yang terjadi bagi mereka yang terpanggil untuk menjadi imam atau pastor. Mengapa? Karena masa depan, bahkan masa kinipun, tidak akan kekurangan pekerjaan, sementara itu pengangguran semakin bertambah. Namun saying bahwa mereka yang terpanggil tidak banyak, bahkan yang sudah terpanggil alias yang telah menjadi imam ada yang mengundurkan diri. Ada berbagai macam alasan mengapa ada beberapa imam mengundurkan diri, antara lain yang kelihatan dalam gejala-gejala lahiriah yaitu: pertama-tama kurang menghayati keutamaan kemiskinan alias sedikit banyak bermental materialistis, dan kemudian didekati atau dimanja oleh beberapa orang dengan aneka kenikmatan duniawi (makanan atau minuman, uang, kendaraan, pakaian, rekreasi dst..), lama-lama menjadi lupa diri dan kurang bahagia sebagai imam, yang antara lain harus hidup selibat. “Serigala-serigala” memang ada dalam diri kita dan lingkungan hidup kita, dan serigala-serigala antara lain berupa ‘harta benda, pangkat/kedudukan maupun kehormatan’, yang siap menerkam kita, menguburkan atau mematikan kharisma/spiritualitas atau visi-misi yang harus kita hayati dalam hidup, panggilan dan tugas perutusan. Untuk menghindari atau menjinakkan ‘serigala-serigala’ tersebut hendaknya berusaha mengahayati seoptimal mungkin apa yang disabdakan Yesus : “Jangan membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan”. Tentu saja sabda ini tidak kita hayati apa adanya begitu saja, tetapi jika mungkin ya silahkan, melainkan dengan sederhana, secukupnya tidak berlebih-lebihan atau berfoya-foya disertai atau dijiwai dengan ujud lurus Kesederhanaan macam ini sejauh saya tahu dan kenal dihayati oleh Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono pr alm.

  • “Aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu” (Ayb19:25-27). Pengalaman Ayub ini baiklah kita renungkan dan refleksikan dalam hidup, panggilan atau tugas perutusan kita masing-masing. Ayub tidak memiliki apa-apa lagi., namun ia memiliki harta terbesar yaitu Allah; semua orang tidak memperhatikannya lagi, namun Allah tidak pernah meninggalkannya. Mungkin dalam hidup, panggilan atau tugas perutusan kita kurang lebih juga mengalami apa yang dialami oleh Ayub, yaitu ‘kesepian’, karena merasa kurang diperhatikan atau disingkirkan oleh teman-teman atau sanak-saudara. Marilah kita manfaatkan pengalaman ‘kesepian’ ini dengan berusaha menghayati apa yang disebut dalam psiko-religius ‘mistik padang pasir’. Dengan kata lain kita jadikan pengalaman ‘kesepian’ untuk menyendiri, bukan untuk murung atau putus-asa, melainkan untuk berdoa atau bermeditasi. Sekali lagi kami ingatkan bahwa bulan ini adalah bulan Rosario, marilah kita isi ‘kesepian’ tersebut dengan berdoa Rosario, meningkatkan dan memperdalam devosi kita kepada Bunda Maria, teladan umat beriman. Pada zaman modern yang antara lain kurang lebih dikuasai oleh berbagai macam sarana elektronik ini, kiranya ada orang yang juga merasa kesepian ketika aliran listrik terganggu yang mengakibatkan berbagai sarana tersebut tidak berfungsi. Jika mengalami hal ini marilah kita tidak perlu gelisah atau kecewa, melainkan kita syukuri sebagai kesempatan untuk ‘menyepi’ guna berdoa atau bermeditasi.


“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN” (Mzm27:13-14)

Jakarta, 5 Oktober 2006


Tgl 04Oct2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J
Sumber www.Ekaristi.org

Comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot )

Last Updated ( Thursday, 05 October 2006 )
 
< Prev   Next >