| Shout It! | |
|---|---|
|
| Upcoming Events |
|---|
| There are no upcoming events! |
| Login Form |
|---|
| Who's Online |
|---|
| Hits Counter |
|---|
| Visitors: 151953 |
| Photo Gallery |
|---|
Daily Word
Jadilah pelayan | Jadilah pelayan |
|
|
|
Written by Rm.I. Sumarya, S.J at Thursday, 05 October 2006 (167 hits)Minggu Biasa XXVb: Keb2:1217-20 ; Yak3:16-4:3 ; Mrk9:30-37"Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."Dalam setiap pergantian pimpinan hidup bersama di dunia ini sering terjadi kekacauan atau keributan yang harus dibayar mahal. Kampanye dari berbagai kelompok atau organisasi dilaksanakan dengan gencar di mana-mana. Kampanye senantiasa melibatkan banyak orang dengan beaya mahal; kemahalan itu kiranya tidak hanya nampak dalam jumlah dana/uang yang harus dikeluarkan, tetapi juga pemborosan tenaga/perhatian dari sekian banyak orang (baik pelaku maupun pononton) dan sering juga terjadi korban entah harta benda maupun manusia. Jauh sebelum kampanye dimulai pada umumnya masing-masing organisasi atau kontestant pemilu berrembug, bahkan ada yang bertengkar untuk membicarakan dan memilih siapa yang ‘terbesar’ di antara mereka dan layak menjadi ‘jago’ dalam kampanye dan kemudian menjadi pemimpin mereka di masa depan. Dan rasanya mereka yang terpilih menjadi calon pemimpin atau ‘jago’ adalah mereka yang kaya, pandai/cerdas secara intelektual, berpengalaman dst.. Sedikit, atau juga mungkin banyak, keributan atau kericuhan juga dapat terjadi ketika: (1) orangtua dalam keadaan lemah mendekati ajalnya, anak-anak ribut bagi warisan, (2) kepala kantor atau pemimpin perusahaan akan pensiun, bawahan atau mereka yang merasa dekat dengannya berbisik-bisik, kasak-kusuk sana-sini dan bertanya-tanya ‘siapa penggantinya?”, dst.. Begitulah kiranya situasi yang terjadi ketika Yesus bersabda kepada para murid/rasul: : "Anak Manusia (Yesus) akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.". Mendengar sabda itu “mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka”. “Di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka” (Mrk9:34) Rasanya peristiwa sebagaimana dialami oleh atau terjadi dalam diri para rasul “di tengah jalan mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka” juga terjadi di masa kini, entah di dalam keluarga, tempat kerja/kantor atau masyarakat pada umumnya. Mungkin hal itu terjadi secara diam-diam dan sudah terlaksana, misalnya sebagai anggota atau bawahan sudah berlagak atau bertindak seperti pemimpin atau atasan alias sulit diatur atau tidak taat pada atasan atau pimpinan, melainkan ‘berjalan menurut selera sendiri’ (Jawa: sak penake wudhele dewe). Hal sering nampak dalam kekacauan hidup bersama atau kurangnya kerjasama dalam bekerja, dan itu semua muncul karena iri hati sebagaimana dikatakan oleh Yakobus “di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yak 3:16). Atau hal itu terjadi sekedar permainan atau strategi untuk mengenal sesama atau atasannya sebagaimana dikatakan oleh penulis Kitab Kebijaksanaan :” Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya” (Keb2:19) “Iri hati dan mementingkan diri sendiri” dan “permainan coba-coba” hemat saya merupakan bentuk nyata dari kesombongan, mau menang sendiri atau menguasai yang lain. Maka marilah kita jauhkan aneka macam bentuk ‘iri hati dan mementingkan diri sendiri’ dalam hidup kita sendiri serta kita berantas berbagai bentuk ‘iri hati dan mementingkan diri sendiri’ yang masih marak dalam hidup kita bersama. Sebaliknya marilah kita hayati hidup kita dengan penuh syukur dan terima kasih, sebagaimana dihayati oleh para pelayan atau para pembantu rumah tangga yang baik. Dengan kata lain marilah kita renungkan dan coba wujudkan dalam cara bertindak kita pesan atau ajakan Yesus ini : "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." (Mrk9:35) Pesan atau ajakan Yesus ini diperjelas dengan kata-kata “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku." (Mrk9:37). Semangat atau jiwa melayani rasanya tidak terlalu jauh dengan ‘cara bertindak’ menyambut atau memperlakukan seorang anak kecil dengan penuh cintakasih. Menyapa, mendekati dan menyambut anak kecil hemat saya perlu dengan rendah hati, lemah lembut, sopan dan ceria/gembira sebagai perwujudan cintakasih dan syukur. Anak kecil dalam arti tertentu bagaikan ‘binatang atau tanaman’ yang harus didekati, disentuh atau dirawat atau dibina dengan penuh cintakasih dan rendah hati agar tumbuh berkembang sebagaimana kita harapkan atau dikehendaki oleh Sang Pencipta. Dan rasanya semua orang sampai tua/mati perlu diperlakukan dengan dan dalam cinta kasih dan rendah hati serta syukur sebagaimana dihayati oleh para pelayan yang baik. Pelayan atau pembantu dalam hidup sehari-hari pada umumnya memang berada dalam posisi yang terakhir, namun ketika ada atau terjadi hal-hal kecil yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari misalnya: kebersihan ruangan/kamar, kebutuhan makan dan minum dst.. mereka boleh dikatakan sebagai yang terdepan. Sebagai contoh adalah di musim liburan Lebaran atau Idul Fitri dimana para pelayan atau pembantu rumah tangga cuti atau mudik, peran pelayan atau pembantu rumah tangga dirasakan begitu besar perannya dalam kehidupan bersama (cukup banyak keluarga kaya meninggalkan rumahnya dan dijaga oleh Satpam, sedangkan keluarga pindah ke hotel-hotel yang pelayanannya baik dan mahal; keluarga yang tidak begitu kaya alias pas-pasan was-was dan bertanya-tanya apakah pembantu rumah tangganya kembali lagi atau tidak setelah cuti Idul Fitri dst..). Pelayan atau pembantu memang ditubuhkan pada saat-saat genting atau situasi yang tidak beres, dan mereka dipanggil untuk membereskannya. Kita semua adalah murid-murid atau pengikut-pengikut Yesus yang “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”(Mrk10:45), dengan kata lain kita semua dipanggil untuk meneladan Yesus dengan hidup saling melayani. Maka marilah kita meneladan semangat atau sikap para pelayan atau pembantu rumah tangga yang baik antara lain: kerja keras, rendah hati, sederhana, siap sedia, ceria/gembira, bersyukur dan berterima kasih, tidak pernah marah atau menggerutu, mengenal dengan baik semua yang harus dilayani dst…. Kita juga dapat meneladan Yesus dengan ‘memberikan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang’, artinya mengerahkan daya, tenaga, dana, perhatian, pikiran atau semua yang kita miliki dan kuasai untuk membereskan apa yang tidak beres, memperbaiki apa yang tidak baik, menyelamatkan apa yang tidak selamat, menyembuhkan yang sakit, memberi makan dan minum kepada mereka yang lapar dan haus, dst…. Jika kita hidup saling melayani rasanya semuanya akan berbahagia dan sejahtera, hidup bersama menjadi sejuk, damai, aman dan tenteram dan masing-masing orang dapat berkarya atau bertindak sesuai dengan panggilan dan tugas perutusan masing-masing dengan baik dan menyelamatkan atau membahagiakan. Semoga mereka yang merasa menjadi ‘yang terdahulu atau terkemuka’ menjadi contoh atau teladan hidup melayani atau ‘menyerahkan nyawa/gairah hidup bagi kebahagiaan atau keselamatan semua orang’. “Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku. Dengan rela hati aku akan mempersembahkan korban kepada-Mu, bersyukur sebab nama-Mu baik, ya TUHAN” (Mzm54:68) Jakarta, 24 September 2006 Tgl 23Sep2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J Sumebr : www.Ekaristi.org
Only registered users can write comments. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |
||
| < Prev | Next > |
|---|