Written by Linda AB at Saturday, 03 June 2006 (652 hits)
Sharing APSE - ASIA PACIFIC SCHOOL OF EVANGELISATION
26 April 2005 saya berangkat ke Australia untuk mengikuti Asia Pacific School of Evangelisation (APSE), yaitu sekolah yang diselenggarakan oleh Disciples of Jesus Covenant Community (DOJ) Australia.
Sekolah ini dimaksudkan untuk :
1.membekali kaum muda (18 – 35 tahun) dengan iman katolik
2.mempersiapkannya dalam misi evangelisasi
3.mengirimnya sebagai tim misi ke daerah Asia Pacifik
4.memberi pengalaman hidup dalam komunitas kristiani
5.mempelajari bagaimana arti komunitas bagi evangelisasi
6.mengembangkan kepemimpinan muda di dalam Gereja Katolik.
Saya hanya menyiapkan biaya untuk berangkat ke Australia karena semua biaya selama sekolah ditanggung oleh pihak sekolah.
Saya mengetahui tentang APSE dari Linda Manbait, anggota DOJ Bali, ketika kami bertemu untuk pertama kalinya ketika sedang mengikuti retret pribadi di Pertapaan Ngadireso Malang akhir Desember 2005. Formulir aplikasi saya kirimkan akhir Januari 2006 setelah Ibu Judy Nuradi dan Romo Albertus Herwanta, O Carm bersedia menjadi pemberi referensi. Saya mendapatkan konfirmasi bahwa saya bisa mengikuti APSE 2006 di awal Maret 2006 dari Andrew Satrapa. Proses pengajuan visa dilakukan akhir Maret 2006 setelah menerima dokumen pendukung dari pihak sekolah. Saya hanya bisa mendapatkan satu bulan visa padahal sudah dilengkapi surat keterangan dari Romo Soni Keraf, SVD bahwa saya anggota paroki Sakramen Maha Kudus.
Ketika di bandara Juanda Surabaya dan Ngurah Rai Denpasar, saya sempat berkaca-kaca karena begitu baiknya Tuhan ketika akhirnya saya berangkat ke Australia, justru di saat saya memutuskan untuk melepas kenyamanan pekerjaan saya dan memulai retret pribadi untuk menemukan kehendak Allah dalam hidup saya. Saya bertemu dengan Tjiang, teman semasa SMA, setiba di Denpasar dan kemudian bertemu dengan anggota DOJ Bali. Wawan, koordinator APSE 2006 Indonesia, dan saya berangkat hampir tengah malam dengan menggunakan Garuda tetapi Wawan turun di Melbourne.
Saya tiba di Sydney keesokan harinya dan Andrew Satrapa terus memonitor keberangkatan saya dari airport Sydney ke Canberra dengan menggunakan bis yang sudah dipesan sebelumnya oleh Andrew. Akhirnya tibalah saya di rumah Hugh dan Carmel Brady di daerah Page – Belconnen, yang akan menjadi tempat tinggal saya selama sekolah berlangsung.
28 April 2006 pagi saya berjalan-jalan ke sekitar rumah, mengunjungi Gereja Santo Matius Page dan biara suster Missionaries of God’s Love (MGL, website : http://www.mglvocation.org). Saya menangis haru ketika membaca doa persiapan penerimaan komuni, yang tentunya dalam bahasa Inggris, bersama-sama dengan Don yang biasa mengisi waktunya dengan membersihkan Gereja Santo Matius. Sore harinya saya mengikuti misa (yang kedua dalam bahasa Inggris seumur hidup saya) di Gereja Santo Benediktus Narabundah dan dilanjutkan dengan persekutuan doa bagi anak muda di Balai Paroki yang dipimpin Corey, MGL. Ketika tiba waktu sharing kelompok, saya mensharingkan pengalaman mengikuti Tri Hari Suci di Pertapaan Ngadireso Malang, dimana ketika melihat drama penyaliban Yesus, saya berpikir Yesus telah melakukan semuanya untuk penebusan saya tetapi mengapa masih begitu berat untuk mendedikasikan seluruh hidup saya, yang bukan milik saya sendiri, kepada Allah?
Saya mengikuti misa harian di Gereja Santo Matius keesokan siangnya dan kemudian belajar membuat pizza (untuk pertama kalinya) bersama Carmel Brady untuk makan siang bersama Alex sekeluarga yang tinggal di sebelah rumah. Malam itu saya isi dengan membaca Catholic Voice dan beberapa bulletin.
30 April 2006, saya diajak mengunjungi Telstra Tower oleh Hugh, Carmel dan Heather Brady. Kemudian menuju Gereja Narabundah untuk mengikuti acara perkenalan APSE 2006. Acara dimulai dengan pujian dan penyembahan serta presentasi oleh Peter Woods selaku direktur APSE. Kami diperkenalkan satu per satu kepada anggota DOJ yang hadir : Wawan, Franky, Ardi, Monika dan saya sendiri dari Indonesia, Alisi dari Fiji, Tracey dan Wesley dari Papua Nugini, Hil dari Philipina, Maralampuwi dan Theodore dari Kepulauan Tiwi, David, Rosannah dan Genna dari Australia serta Katherine, MGL, Melanie, MGL, Albert MGL dan Jeffery, MGL. Kaki saya sampai bergetar ketika didoakan oleh seluruh yang hadir. Saya ikut mengambil sosis di pasar bersama beberapa frater MGL dan kemudian mengikuti acara barbeque di Balai Paroki. Ketika sedang menikmati barbeque, tiba-tiba Therese,MGL memberitahu bahwa Fr. Ken Barker, MGL dan dirinya memutuskan untuk meminta saya memberikan sharing dalam misa karismatik 7 pm. Semula saya menolak karena saya tidak tahu apa yang harus disharingkan, saya tidak pernah sharing sewaktu misa di Indonesia, apalagi ini misa bahasa Inggris tetapi akhirnya saya setuju juga karena menurutnya cukup menyampaikan apa yang selama ini saya lakukan. Sepanjang misa yang dirayakan secara konselebrasi, saya hanya bisa berdoa supaya saya bisa sharing demi semakin besarnya kemuliaan Allah sebab “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3 : 30) dan mohon Roh Kudus membimbing saya untuk mengatakan apa yang harus saya sharingkan. Kotbah Fr. Ken, MGL tentang damai sertamu yang terus diulang oleh Therese, MGL dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya. Setelah nubuat oleh beberapa umat, saya dipanggil untuk sharing. Saya memakai kaos, sweater dan jaket untuk mengurangi gemetar karena dingin dan demam panggung. Semula suara saya cukup gemetar tetapi akhirnya mengalir begitu saja cerita tentang pertobatan saya di tahun 2004 setelah mengikuti Retret Hidup Baru dalam Roh di Pertapaan Ngadireso Malang sampai akhirnya saya menerbitkan buku “Menghitung Berkat” yang terbit awal 2006 yang berisi berkat-berkat yang saya terima selama ini dan kesempatan mengikuti APSE 2006 ini menambah daftar berkat dari Tuhan itu.
Minggu Pertama APSE 2006
Hari pertama APSE diisi dengan perkenalan tentang APSE dan dengan sesama peserta yang dipandu oleh Therese, MGL dan Daniel Foster. Therese, MGL menyatakan bahwa kami semua berkumpul di APSE ini bukan suatu kebetulan, tapi sungguh merupakan rencana Tuhan sendiri.
Secara umum, acara di pagi hari di minggu pertama adalah pengajaran tentang Evangelisasi yang diberikan oleh Fr. Ken, MGL dan tentang Doa yang diberikan oleh Judy Bowe, MGL yang masing-masing berlangsung selama 4 hari berturut-turut.
Topik yang diberikan oleh Fr. Ken, MGL yang sebagian besar bersumber pada Evangelii Nuntiadi dan Redemptoris Missio, diantaranya :
1. alasan melakukan evangelisasi : Kebutuhan akan penyelamatan, Amanat agung Yesus, Mengubah dunia, Cinta bagi yang tidak mengenal Allah, Memperdalam iman. Allah telah membuat Kristus sebagai satu-satunya jalan penyelamatan meskipun orang tidak mengenal Kristus secara sadar. Gereja dibentuk sebagai tanda yang efektif dari penyelamatan untuk semua orang. Orang berhak untuk mengetahui kebenaran, yaitu Kristus sendiri (lihat Yoh 14 : 6), tawaran akan sebuah hadiah. Orang dapat diselamatkan melalui jalan lain oleh kerahiman Tuhan meskipun kita tidak mewartakan Kabar Gembira kepada mereka
2. Pentakosta Baru : dimana Roh Kudus adalah agen prinsip dari evangelisasi
3. Evangelisasi Baru : perlunya berpindah dari Gereja sebagai pusat menjadi Kristus sebagai pusat
4. Proses Evangelisasi : Kesaksian hidup pribadi dan komunitas, Pewartaan Kabar Gembira, Perubahan hati, Penggabungan dengan komunitas kristiani serta Memampukan untuk menjadi Evangelis
5. Pentingnya Hubungan
6. Komunitas Baru di dalam Gereja Saat ini
7. Kabar Gembira dan Budaya : pentingnya inkulturasi
Di dalamnya termasuk cerita bahwa misa karismatik 7 pm (sejak 3 tahun lalu dipindahkan dari Gereja Katedral Canberra ke Paroki Narabundah yang dikelola oleh MGL) dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada orang-orang yang tidak sempat misa pada jam yang umum (karena baru pulang dari luar kota atau seharian padat beraktivitas) untuk dapat mengikuti misa dan ternyata membawa perubahan hidup pada sebagian orang, orang yang banyak belajar tentang memancing tetapi tidak pernah memancing seperti halnya orang yang banyak belajar evangelisasi tetapi tidak melakukan evangelisasi (saya jadi teringat akan tugas kunjungan rumah dari sekolah evangelisasi pribadi yang saya rasa memberatkan), anak-anak muda yang mengalami resting in the spirit ketika melakukan penumpangan tangan pertama kali dan panggilan untuk melakukan kotbah di jalan yang dilakukan oleh MGL.
Topik yang diberikan oleh Judy MGL diantaranya adalah Cara Berdoa, Hari Doa, Hidup Refleksi, Lectio Divina dan Praktek Doa Syafaat.
Siang harinya setelah misa dan adorasi, diadakan seminar Hidup Baru dalam Roh dengan pembicara dan pemberi sharing dari anggota DOJ, diantaranya Fr. Ken, MGL, Lara, Samuel, Fiona, Daniel, Therese, MGL.
2 Mei 2006 sepulang misa sore saya diajak Carmel ke ulang tahun Joy yang tinggal tak jauh dari rumah sehingga saya berkenalan dengan beberapa anggota DOJ dan sesampai di rumah berkenalan dengan Jack, teman Hugh, yang pernah belajar bahasa Indonesia semasa kuliah di Perancis.
Kami diajak naik cruise pada 3 Mei 2006 sore bersama beberapa orang anggota DOJ, frater MGL dan suster MGL. Angin sangat besar sepanjang perjalanan. Peter Woods sempat menanyakan kemungkinan untuk mengadakan APSE di Indonesia karena APSE tidak harus diadakan di Australia dimana tahun 2005 diadakan di Wewak – Papua Nugini.
Setelah 3 hari mendapatkan materi seminar Hidup Baru dalam Roh, maka dilakukan pembaptisan dalam Roh pada 4 Mei 2006 setelah makan malam, didahului dengan pujian dan penyembahan serta sakramen tobat oleh Fr. Ken, MGL. Saya didoakan oleh Therese, MGL dan Peter Woods serta mengalami resting in the spirit.
5 Mei 2006 malam diadakan barbeque di yacht club bersama beberapa orang anggota DOJ.
Keesokan siangnya, Hugh mengundang keluarga Laurence dan Gaby untuk makan pizza buatannya karena Laurence bisa berbahasa melayu, yang mirip dengan bahasa Indonesia. Saya tidak mengikuti acara makan siang ini sampai selesai karena sudah dijemput oleh Therese, MGL untuk berkeliling kota Canberra. Kami mengunjungi Gedung Parlemen Lama, Gedung Parlemen Baru, Kedutaan Tenda milik orang Aborigin yang ada di depan Gedung Parlemen Lama dan War Memorial. Sepulang dari acara jalan-jalan, kami berkunjung ke rumah Fiona Smith sambil menunggu jam makan malam berupa masakan Christ di rumah Carolyn Shukor.
7 Mei 2006 siang saya mengikuti area gathering DOJ di rumah John dan Lyn Barr bersama Hugh, Carmel dan Heather Brady. Malamnya, saya mengikuti misa karismatik 7 pm di Narabundah. Lima orang peserta APSE diminta menyampaikan pengumuman tentang malam budaya dalam bahasa masing-masing : Indonesia, Papua Nugini dan Kepulauan Tiwi tetapi kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Therese, MGL, dimana saya menyampaikan pengumuman tempat pelaksanaan malam budaya dalam bahasa Indonesia. Mata saya berkaca-kaca ketika ada nubuat tentang panggilan hidup dan kesediaan untuk menyerahkan seluruh hidup diubah oleh Allah. Seusai misa, umat bisa ramah tamah di balai paroki karena ada cafe 7P yang hanya buka setelah misa 7 pm dan dikelola oleh kaum muda.
Minggu kedua APSE Pengajaran di pagi hari minggu kedua tentang Penyembuhan oleh Peter Woods dan Karisma Roh Kudus (Charismatic Gift) oleh Costandi Bastoli yang berlangsung selama 4 hari.
Costandi menjelaskan tentang karisma Roh Kudus untuk berkata-kata (nubuat, berbicara dalam bahasa Roh dan menafsirkan bahasa Roh), berbuat (iman, penyembuhan dan mukjizat) serta mengetahui (berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan dan pembedaan Roh) yang semuanya berdasarkan Kitab Suci serta bagaimana mewartakan Cinta Tuhan. Di samping itu juga dilakukan penumpangan tangan untuk beberapa teman yang mengalami sakit punggung atau pundak dan mereka mengalami kesembuhan. Kami diberi daftar pertanyaan untuk mengetahui karisma Roh Kudus yang dimiliki. Costandi juga menjelaskan perbedaan antara Sakramen Baptis (menjadi imam, raja dan nabi), Sakramen Krisma (untuk pergi dan mewartakan Kabar Gembira) dan Pembaptisan dalam Roh (bersandar pada Roh Kudus dan membiarkan Roh Kudus untuk memiliki diri kita sepenuhnya).
Siang harinya, setelah misa dan adorasi, diadakan seminar oleh Therese, MGL, Daniel dan Fiona tentang bagaimana mengadakan acara (retret, week end, camping) termasuk praktek melakukan kesaksian di depan umum selama 3 menit sehingga kami harus mempunyai draft kesaksian supaya bisa memberikan kesaksian kapan saja dan dimana saja.
9 Mei 2006 setelah makan malam diadakan malam budaya yang menampilkan budaya dari negara-negara peserta APSE, yaitu : Philipina, Papua Nugini, Indonesia, Fiji, Kepulauan Tiwi dan Australia. Kami dari Indonesia, memakai pakaian adat Bali untuk laki-laki dan pakaian adat Flores untuk wanita. Vincent, MGL bertugas sebagai pemandu acara dari Indonesia dimana kami menarikan sebagian dari tari Kecak dari Bali, tari Rokatenda dari Flores dan presentasi tentang candi Borobudur yang merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Presentasi tentang Borobudur sempat tertunda karena VCD tidak bisa langsung ditampilkan di layar.
10 Mei 2006 merupakan hari doa/penyembuhan dimana kami mengikuti jadwal hari retret yang diadakan oleh Paroki Narabundah dengan dibimbing oleh pastor paroki Fr. Chris Ryan, MGL dengan topik Living in the victory of the risen Christ dan mengambil bacaan Yoh 14 : 6 : Kata Yesus kepadanya :”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Sepanjang hari diisi dengan pengajaran dan adorasi serta kesempatan untuk didoakan oleh Costandi/Therese, MGL/Fiona. Costandi memimpin doa penyembuhan luka batin. Saya minta didoakan oleh Costandi untuk mengetahui kehendak Allah dalam hidup saya dan akhirnya menangis haru.
Setelah makan siang 12 Mei 2006, Wawan, Ardi, Tracey dan saya membantu Ellen membersihkan Gereja Narabundah yang berkarpet. Setelah misa sore, ada acara salt and light, sebuah persekutuan doa bagi kaum muda dengan tema Freedom, dengan pembicara Brian, drama oleh Global Ministries (terdiri dari anak-anak muda dari Singapore, El Salvador, Ecuador dan Australia yang akan melakukan misi ke Eropa sekitar 4 bulan) dan sharing oleh David dan Tracey peserta APSE.
13 Mei 2006 siang mengikuti misa komunitas Indonesia bersama Wawan, Franky, Ardi, Vincent, MGL, Matheus, MGL, Izak, MGL, Wens, MGL di rumah Bapak Soepomo yang dipimpin Fr. Lourie Foote, OP dan tentu saja dengan makanan Indonesia. Kami kemudian menuju Woden Plaza dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu melihat keramaian. Wawan, Franky dan saya menunggu di biara MGL Red Hill karena akan mengikuti misa hari Ibu di dekat biara. Saya membantu Wens, MGL dan Izak, MGL memasak sup ayam ala Indonesia.
14 Mei 2006 saya mengunjungi Hawker Shop yang merupakan kompleks pertokoan terdekat di daerah saya, tetapi sangat sedikit pengunjung. Malamnya berangkat bersama Christ dan Ni Luh mengikuti misa karismatik 7 pm di Narabundah.
Minggu ketiga APSE Pengajaran minggu ketiga tentang Iman Katolik oleh Adrian Wellspring dan Budaya oleh Fr. Daniel Benedetti, MGL yang berlangsung selama 4 hari berturut-turut sedangkan siang harinya melanjutkan seminar tentang mengadakan acara, Pemuridan oleh Judy, MGL dan Kepemimpinan oleh Peter Woods.
Adrian menyampaikan topik tentang Penyelamatan (yang mengandung 3 kurun waktu yaitu sudah diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus, sedang diselamatkan oleh apa yang dilakukan sehari-hari dan akan diselamatkan oleh apa yang sudah dilakukan. Gereja adalah jalan normal untuk Penyelamatan), Kitab Suci, Kuasa Mengajar Gereja, Tradisi Suci, Sakramen, Gereja (yang Satu, Kudus dan Katolik), Bunda Maria, Dosa, Pertobatan, Surga, Neraka, Api Penyucian dan Kedatangan Yesus yang kedua. Sedangkan Fr. Dan, MGL menyampaikan pentingnya mengetahui budaya lokal dalam melakukan kegiatan misi.
16 Mei 2006 malam diadakan session pertama dari seminar Hidup dalam Roh bagi umum yang merupakan kegiatan dari Paroki Narabundah dan DOJ. Acara dibuka oleh Fr. Ben Robert, MGL dan dilanjutkan dengan drama tentang Cinta Allah oleh David, Rosannah, Monika, Hil dan Jeffery, MGL, pengajaran oleh Wesley serta sharing oleh Alisi yang semuanya merupakan peserta APSE.
Setelah berusaha menghindar di dua minggu pertama dengan alasan tidak bisa menyanyi, akhirnya 17 Mei 2006 pagi, saya harus memimpin pujian dan penyembahan. Therese, MGL menyatakan untuk memimpin pujian dan penyembahan tidak harus bisa menyanyi karena bisa dengan meminta orang lain untuk mengawali nyanyian, akhirnya Katherine, MGL diminta menjadi penyanyi sedangkan saya yang memberi aba-aba dengan didampingi anggota kelompok Santa Klara : Rosannah, Wesley dan Ardi. Malamnya makan di Gowrie Court bersama Rosannah dan Rachael, MGL. Sambil menunggu Rachael, MGL yang ada pertemuan di daerah Kambah, maka saya dan Rosannah menunggu di rumah Christ dan akhirnya menjadi acara sharing diantara kami bertiga.
18 Mei 2006 siang melihat VCD Mother Theresa, saya mulai menangis ketika Mother Theresa dihadapkan pada pilihan yang sulit sampai akhirnya mengatakan bahwa beliau dipanggil untuk menjadi suster selamanya tetapi orang-orang di luar juga memanggilnya. Kami melanjutkan melihat VCD tersebut setelah seminar oleh Peter Woods tentang langkah setelah APSE, dan menangis lagi. Semasa kuliah saya pernah berharap untuk mengunjungi Mother Theresa tetapi tidak pernah terlaksana karena keterbatasan biaya. Setelah itu, kami naik bus mini yang dikendarai oleh Therese, MGL untuk mengunjungi Museum Nasional Australia (yang menampilkan tayangan tentang Australia dengan kursi yang bisa berputar ke tempat masing-masing presentasi, menciptakan kota masa depan dengan foto diri yang bisa dilihat dengan kacamata 3D), melihat kangguru dari jauh dan melihat Government House Look Up. Makan malam di rumah Andrew Satrapa, yang pernah bertugas di Indonesia, bersama Wawan, Monika, Franky, Ardi dan Rosannah.
19 Mei 2006 merupakan hari persiapan misi yang diisi oleh Peter Woods dengan langkah-langkah setelah pulang ke negara masing-masing. Di samping itu John Kennedy selaku ketua DOJ Australia memberikan materi tentang awal mula pembaharuan karismatik (yang terjadi di tahun 1901 di gereja Protestan), pembaharuan karismatik katolik serta sejarah DOJ Australia. Acara selanjutnya misa, sharing dan menuliskan peneguhan untuk setiap anggota kelompok sharing di sebuah kertas. Pulang cepat untuk persiapan makan malam di Southern Cross Club, yang diisi dengan sumbangan acara dari masing-masing negara, pemberian ucapan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu terlaksananya APSE 2006, pemberian penghargaan kepada tiap peserta APSE sebagaimana kebiasaan yang dilakukan oleh masing-masing peserta dimana saya mendapat penghargaan sebagai Pretty in Pink serta presentasi foto-foto selama APSE. Kami mendapat sebuah rosario buatan Karen. Malamnya saya tinggal sendiri di rumah karena Hugh sekeluarga pergi Sydney sampai minggu. Therese, MGL menawarkan untuk pindah rumah tetapi saya memilih tetap tinggal di rumah karena ini tentunya merupakan kepercayaan untuk saya di samping itu ada beberapa kegiatan di akhir minggu jadi praktis saya hanya sendiri di rumah di malam hari.
Saya mengikuti adorasi dan misa di Gereja Santo Matius pada 20 Mei 2006 siang kemudian jalan-jalan ke Hawker Shop bersama Monika. Malamnya makan malam terakhir bagi peserta APSE di rumah Daniel.
21 Mei 2006 siang makan di rumah Pam Brown. Beberapa teman mulai menangis ketika menyampaikan ucapan terima kasih. Saya mulai menangis haru ketika Therese, MGL menyatakan bahwa kita dipanggil untuk misi selamanya. Yang terpikir adalah hidup saya tidak akan pernah sama lagi dengan sebelum berangkat ke Australia, meskipun saya belum seperti apa. Kami kemudian menuju Gereja Narabundah untuk mengikuti misa perutusan yang dipimpin oleh Fr. Ken, MGL. Persembahan dibawakan oleh peserta APSE, saya membawa air dan selendang batik. Saya menangis haru lagi. Penyerahan sertifikat APSE 2006 dilakukan setelah homili dan dilanjutkan dengan penumpangan tangan oleh umat yang hadir. Monika dan Alisi berangkat ke Sydney sebelum misa berakhir. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dengan anggota DOJ di Balai Paroki. Saya ikut beberapa frater MGL mengambil roti di sebuah toko roti dan kemudian mengantarnya ke biara MGL Garrant. Kami kemudian berangkat ke Gereja Narabundah untuk mengikuti misa karismatik 7 pm terakhir dan dilanjutkan dengan ramah tamah di balai paroki.
Liburan  22 Mei 2006 pagi saya berangkat ke Greyhound terminal bersama Wesley diantar Therese, MGL, Katherine, MGL, Melanie, MGL dan Rosannah. Wawan, Ardi, Franky, Hil, Matheus, MGL, Corey, MGL, Jeffery, MGL, Vincent, MGL, James, Fiona, Julie dan Andrew Satrapa sudah menunggu di sana. Sesampai di stasiun kereta Sydney, Wawan, Franky, Ardi, Hil dan saya melanjutkan perjalanan ke Blue Mountain bersama James. Kami bertemu Christine, sepupu James yang pernah melakukan misi ke Bali bersama Therese, MGL, Daniel dan Jackie di tahun 2005, di stasiun Springwood ketika kami dijemput Costandi. Kami kemudian makan sup di rumah Costandi dan mengunjungi sekolah St. Columbus, Yellow Rock dan Pertapaan Ortodoks, dimana pengunjung wanita tidak boleh memakai celana panjang sehingga saya memakai jaket dan syal sebagai penutup pinggang selama mengunjungi pertapaan yang cukup luas tetapi tidak tampak satu orangpun.
Keesokan paginya Christine dan James mengantar kami menuju Katoomba. Di tengah jalan kami berhenti untuk berfoto karena menemukan es. Ternyata di taman bermain, lebih banyak salju maka kami pun bermain dulu. Kami mengunjungi Govett’s Leap, Katoomba yang merupakan tambang batu bara dengan naik kereta dan kereta gantung. Makan siang dengan bekal yang dibuatkan oleh Barbara Bastoli di dalam gua buatan di tempat melihat batu Three sisters yang banyak angin karena tempat terbuka. Sore harinya kami mengikuti misa paroki St. Thomas Aquinas. Makan malam bersama sharing grup laki-laki dan perempuan muda DOJ Blue Mountain. Sebagai tamu, kami didaulat untuk sharing satu per satu.
24 Mei 2006 pagi Wawan, Franky, Ardi, Hil dan saya menuju Sydney dengan kereta api. Saya mengunjungi Museum Contemporary Art, Sydney Harbour, Sydney Bridge, Opera House, Katedral Santa Maria dan Sydney Tower. Sore harinya, kami pulang ke Paramatta bersama Tom Lara dengan menggunakan bis dan dijemput Eppai dan Francis di Baulkamhill. Makan malam mirip masakan Indonesia karena Tom dan Eppai adalah orang Philipina. Costandi dan Barbara datang untuk mengantar koper-koper kami dan tentu saja kamera saya yang ketinggalan di rumah Costandi. Saya dan Wawan kemudian diantar ke rumah David dan Anne Finkel. Saya memakai balsem analgesik untuk mengurangi pegal setelah seharian jalan.
25 Mei 2006 pagi hari mengantar Hil ke airport kemudian Wawan, Franky, Ardi dan saya diantar Tom stasiun Circular Quay untuk naik ferry ke Manly. Tas saya ketinggalan di mobil Tom, beruntung kamera dan kaca mata sudah dikeluarkan dari tas sebelum turun mobil serta Ardi membawa uang lebih yang bisa saya pinjam dulu. Kami berjalan-jalan di Manly sampai siang, kemudian mengunjungi Paddy’s Markets dan ternyata barang-barang yang kami beli di sebuah toko yang sedang obral masih lebih mahal. Kami pulang bersama Tom ke Paramatta. Wawan dan saya makan malam bersama David, Anne dan Sean Finkel.
Keesokan harinya Franky dan Ardi diantar ke airport kemudian Wawan dan saya diantar Tom ke Darling Harbour. Saya mengunjungi Museum Maritim Nasional dan Paddy’s Markets. Pulang ke Paramatta dengan bis dan langsung diantar Tom ke Featherdale Wildlife Park. Akhirnya saya melihat, memegang dan berfoto bersama kangguru dan koala dari dekat.
27 Mei 2006 pagi Wawan dan saya diantar ke airport Sydney oleh Tom. Saya bertemu Ardi yang membawakan sebagian bagasi saya dan Tjiang di airport Denpasar. Sore harinya saya melanjutkan perjalanan ke Surabaya setelah sekitar satu bulan mengalami hidup berkomunitas , belajar dan berlibur di Australia.
Cuaca Rasa dingin langsung menyergap ketika saya keluar dari airport Sydney untuk mencari lokasi bis yang menuju Greyhound Terminal Canberra karena angin yang cukup kencang.
Cuaca di Canberra sangat bervariasi, terkadang pagi hari berkabut, matahari bersinar di siang hari tetapi angin bertiup cukup kencang sehingga udara menjadi dingin. Setiap malam selalu tidur dengan perlengkapan lengkap : sweater, kaos tangan, kaos kaki dan beberapa lapis selimut serta tidak ketinggalan pemanas ruangan. Biasanya selama berada di dalam ruangan, saya tidak terlalu kedinginan karena ada pemanas ruangan tetapi kalau berada di luar ruangan terutama di malam hari, maka sweater, jaket dan kaos tangan harus disiapkan. Meskipun terkadang badan menggigil setelah mandi pagi, saya tidak bersin-bersin sebagaimana yang biasa saya alami di Surabaya.
Setiap kali saya merasa kedinginan, ketika adorasi ataupun ketika tidur malam, saya hanya bisa percaya bahwa kuasa Tuhan lebih besar dari rasa dingin itu dan saya tidak merasa kedinginan lagi. Saat kami di Blue Mountain, cuacanya terdingin dalam 6 tahun terakhir tapi saya bisa melewatinya tanpa bersin-bersin.
Suatu kali terasa dingin sampai ke tulang setelah berjalan-jalan dengan hanya memakai sandal. Sejak itu, setiap kali keluar rumah selalu memakai sepatu kets dan kaos kaki.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah di Narabundah tampak pohon yang mulai meranggas dan terkadang kangguru yang mati di pinggir jalan.
Kulit menjadi kering meski sudah memakai pelembab sehari dua kali dan minum air putih. Akhirnya setelah minggu kedua, saya memakai minyak telon setiap malam. Sekali lagi saya percaya bahwa kuasa Tuhan lebih besar daripada cuaca sehingga kulit saya tidak kering lagi di akhir minggu ketiga.
Makanan Selama di Indonesia, saya terbiasa makan nasi dua kali sehari tetapi seminggu sekali saya puasa hanya makan nasi sekali, selalu menghindari kacang kapri dan kentang rebus. Tekanan darah saya biasanya turun dan menjadi pusing bila kekurangan karbohidrat. Tetapi selama di Australia, saya justru semakin jarang makan nasi tetapi saya tetap fit dan bertambah gemuk 1 kg meskipun hampir tiap hari bangun paling lambat 07.00 am (artinya di Surabaya masih jam 04.00 am, meskipun alarm diset jam 05.30 am) dan seharian beraktivitas sampai sekitar 23.00pm baru tidur. Biasanya saya manfaatkan waktu-waktu luang untuk tidur lebih cepat. Terkadang mengantuk di kelas juga tetapi udara dingin cukup membantu untuk cepat terjaga kembali.
Saya selalu mensyukuri makanan yang telah disediakan dan pada akhirnya menganggapnya sebagai saat berpuasa karena makanan non nasi biasanya cepat mengenyangkan tetapi cepat lapar kembali terutama di minggu pertama. Suatu kali, makanan yang disajikan terasa tawar dan baru terasa lebih enak setelah saya menambahkan garam dan merica. Bahkan rasanya makanan untuk anak-anak (nugget dan kentang goreng) ketika makan malam terakhir di Southern Cross Club, lebih cocok untuk lidah saya.
Saya pernah merasa pusing dan ternyata tekanan darah saya hanya 103/67, tetapi tidak lama kemudian, saya tidak pusing lagi setelah makan. Tiap pagi saya minum vitamin C yang saya bawa dari Indonesia.
Saya mengandalkan Tuhan untuk menguatkan saya di saat makanan yang ada tidak seperti yang biasa saya makan. Dan tentu saja santapan Tubuh dan Darah Kristus setiap hari menjadi penguat hari-hari APSE (Mat 8: 8b :…katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh)
Bahasa Misa bahasa Inggris saya yang pertama adalah misa minggu Palem 2006 di Kapel Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Saya tidak tahu bagaimana berpartisipasi dalam misa bahasa Inggris, maka biasanya saya hanya diam atau berdoa dalam bahasa Roh ketika tiba saatnya menjawab karena saya menjadi lupa bagaimana menjawab dalam bahasa Indonesia ketika semua umat menjawab dalam bahasa Inggris. Sebenarnya ada buku panduan misa yang berlaku satu tahun lengkap dengan doa dan sumber bacaan tetapi seringkali saya lupa mengambilnya. Meskipun begitu, saya tetap bisa menangis haru di tengah misa.
Dorongan untuk berdoa dalam bahasa Roh biasanya muncul ketika prefasi dimulai. Saya sungguh mengalami bahwa di dalam Kristus, tidak ada halangan bahasa.
Pelajaran yang semuanya disampaikan dalam bahasa Inggris tentu menjadi kendala tersendiri apalagi terkadang cara berbicara orang Australia cukup cepat. Saya menyiapkan alat rekam MP3 tetapi tidak selalu berfungsi sehingga tiap kali harus minta bantuan Bonny, MGL untuk membenahi. Menurut penelitian, hanya 10% dari apa yang dipelajari tetap diingat oleh otak sadar sedangkan 90% nya berada di otak tak sadar, maka saya percaya, meskipun saya tidak selalu mengerti apa yang disampaikan, 90% nya telah menetap di otak tak sadar saya.
Pengajaran di kelas misi evangelisasi dan kelas pemuridan di sekolah evangelisasi pribadi keuskupan Surabaya, retret hidup dalam roh, retret penyembuhan luka batin serta retret Karunia Roh Kudus di Pertapaan Ngadireso Malang sangat membantu memahami materi yang diberikan selama APSE.
Saya selalu berusaha duduk di barisan depan ketika pengajaran atau misa supaya bisa mendengar apa yang disampaikan dengan jelas.
Keramahantamahan Ketika ditanya apa yang menarik dari Australia, cukup sulit untuk menjawabnya sampai akhirnya saya menemukannya, yaitu keramahtamahan anggota DOJ. Bagaimana mereka membawa permohonan visa peserta APSE dalam doa, acara-acara yang dimaksudkan agar kami merasa at home, keluarga-keluarga yang menyediakan kamarnya untuk ditempati oleh peserta APSE non Australia baik di Canberra, Blue Mountain maupun di Sydney, undangan makan dan jalan-jalan di Canberra, Blue Mountain dan Sydney, John dan Noelene yang tiap hari meluangkan waktu untuk menyiapkan snack, makan siang dan makan malam di Balai Paroki/Outreach Centre Gereja Narabundah, Ellen yang tiap hari membantu menyiapkan misa, Suster-suster MGL (Therese, Melanie dan Katherine) yang tiap pagi mengantar jemput dari rumah ke sekolah di Gereja Narabundah, Frater-frater MGL dari Indonesia (Wens, Matheus, Izak dan Vincent) yang berusaha menciptakan suasana Indonesia.
Terima kasih banyak untuk semua orang yang telah memberikan bantuan selama APSE 2006 dalam bentuk pengajaran, doa, transportasi, makanan, liburan, tempat menginap, dll, yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Doa Sebagaimana diajarkan oleh Fr. Chris, MGL untuk selalu membawa persoalan ke Tuhan dalam doa, maka saya sungguh merasakan betapa besar kuasa doa sehingga saya bisa menjalani APSE sampai selesai dengan tetap merasakan damai dan hidup sepenuhnya meskipun begitu banyak hal yang berbeda dengan kebiasaan saya. Ketika doa-doa saya dijawab meskipun saya tidak pernah mengalami penglihatan atau pendengaran ketika adorasi sekalipun. Tuhan menjawab dengan mengabulkan permohonan saya, ketika saya mengakui bahwa saya tidak mampu.
Ketika pertama kali datang ke Australia, saya hanya bisa berdoa bahwa saya tidak tahu seperti apa hari-hari selama APSE tetapi saya mohon untuk dapat menjalaninya dengan baik karena ini adalah bagian dari retret pribadi yang sedang saya jalani. Saya telah memulai proses ini jadi biarlah Tuhan yang menyelesaikannya.
Kebiasaan doa hening sekitar 30 menit setiap pagi, meski tidak selalu bisa konsentrasi, selama di Indonesia tentu sangat membantu ketika adorasi selama satu jam menjadi acara harian selama APSE, meskipun seringkali adorasi saya tidak sampai satu jam
Misa (Karismatik) Meskipun tidak selalu bisa menangkap isi bacaan maupun kotbah, misa selalu menjadi acara yang ditunggu terutama misa karismatik 7 pm di Gereja Narabundah. Saya hanya mengikuti misa karismatik ketika retret di Pertapaan Ngadireso Malang atau misa di sekolah evangelisasi pribadi.
Yang berbeda dengan suasana di Indonesia adalah gereja yang lebih kecil, tidak ada gong ketika konsekrasi, selalu minum darah Kristus dari piala, ada yang menyambut komuni dengan berlutut terlebih dahulu, ada yang menyambut komuni langsung di mulut, suasana misa yang cair, salam damai dengan berpelukan, waktu untuk nubuat dari umat setelah komuni, doa umat secara spontan.
Sepanjang hari ada pentahtaan sakramen mahakudus di Gereja Narabundah di samping itu misa karismatik 7 pm selalu dirayakan secara konselebrasi oleh beberapa imam MGL.
Pembelajaran Begitu banyak pembelajaran yang saya dapatkan selama APSE di samping pelajaran-pelajaran resmi : belajar rendah hati, belajar melayani (kami dibagi dalam kelompok dengan tugas bergantian : membersihkan dapur setelah makan siang/malam, menyiapkan misa, memimpin pujian dan penyembahan di pagi hari serta membersihkan ruang belajar di Balai Paroki/Outreach Centre), belajar taat pada kepemimpinan orang lain, belajar mendengarkan, belajar sedikit berbicara (lihat Luk 2 : 51b : Dan ibuNya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya), belajar mengambil hikmah atas peristiwa yang terjadi, belajar pentingnya komunitas kristiani sebagai bukti transformasi hidup berdasarkan nilai-nilai Kristiani, belajar tidak lekat pada segala sesuatu kecuali warna pink, belajar berjalan dalam terang iman yang hanya menyediakan cahaya untuk satu langkah ke depan dan menghilangkan kekhawatiran. Tentu semuanya harus terus berlanjut di dunia nyata sepulang dari APSE, yang mungkin lebih sulit karena ….roh memang penurut, tetapi daging lemah (Mrk 14 : 38).
Di samping itu saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan saya selama ini mengapa ketika menerima sakramen Krisma, tidak membuat orang resting in the spirit maupun berbicara dalam bahasa Roh seperti yang biasa terjadi ketika dilakukan pembaptisan dalam Roh. Menurut Costandi, ada anak yang bisa berbicara dalam Roh ketika menerima sakramen Krisma karena mendapat pengajaran tentang Karisma Roh Kudus dalam persiapan penerimaan sakramen Krisma. Costandi juga menyatakan bahwa ketika mengalami resting in the spirit, kita tetap sadar akan apa yang terjadi tetapi badan lemas.
Perasaan Saya tidak pernah merasa homesick. Dengan segala kendala yang ada (cuaca, makanan dan bahasa), membuat saya justru bersandar kepada Allah, menyadari bahwa saya tidak sanggup dan Dia sanggup, bahwa saya tidak mengerti dan Dia mengerti. Ini membuat saya mampu hidup sepenuhnya di saat itu dan di sana, merasakan pengalaman akan Cinta Allah yang membebaskan, ketika banyak hal yang menurut pengalaman saya tidak biasa/bisa, ternyata saya bisa sehingga saya sungguh mengalami :
“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1 : 37)
Mojoagung, Pentakosta 2006
4 Juni 2006
Linda AB Stasi Santo Aloysius Gonsaga, Mojoagung
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |