| Shout It! | |
|---|---|
|
| Upcoming Events |
|---|
| There are no upcoming events! |
| Login Form |
|---|
| Who's Online |
|---|
| Hits Counter |
|---|
| Visitors: 151864 |
| Photo Gallery |
|---|
Daily Word
" Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada - Nya." | " Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada - Nya." |
|
|
|
|
Written by Rm.I. Sumarya, S.J at Wednesday, 11 October 2006 (167 hits) “Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya." (Gal3:1-5 ; Luk11:5-13) “Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya;masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."([Luk 11:5-13]), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: Setiap orang kiranya senantiasa menghendaki atau mencita-citakan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri, namun karena keterbatasan dan kelemahan atau kerapuhan diri masing-masing maka ‘apa yang disebut terbaik’ dapat saling berbeda satu sama lain bahkan bertentangan. Yang terbaik bagi siapapun kiranya adalah Roh Kudus, sebagaimana disabdakan oleh Yesus, sehingga orang dijiwai atau dihidupi oleh Roh Kudus dan ‘cara bertindak’ –nya menghasilkan buah-buah Roh yaitu : “ kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” ([[Gal 5:22-23]]), keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamat-kan. Maka marilah dalam doa-doa namapun perilaku atau kesibukan kita setiap hari mohon dari Tuhan keutamaan-keutamaan tersebut dan seoptimal mungkin mengusahakannya, entah secara sendirian maupun bersama-sama. Kiranya keutamaan-keutamaan tersebut tidak mungkin secara serentak kita mohon dan usahakan, melainkan satu keutamaan asal mendalam kiranya akan dengan sendirinya membuahkan keutamaan-keutamaan lainnya. Hemat saya pada masa kini keutamaan yang baik kita mohon dan usahakan adalah ‘penguasaan diri’, karena masih maraknya aneka bentuk keserakahan dalam hidup sehari-hari dan rasanya mohon dan mengusahakan keutamaan ‘penguasaan diri’ akan seiring dan sejalan dengan saudara-saudari kita, umat Islam, yang sedang menjalani ibadah puasa pada hari-hari ini. Jika kita mampu ‘menguasai diri’ maka dengan mudah kita ‘menguasai sesama/orang lain’ dengan dijiwai oleh kasih, kesabaran, kelemahlembutan dan kebaikan, sehingga ‘menguasai’ menjadi ‘melayani’. Kebersamaan hidup kita menjadi kebersamaan dalam saling melayani, membahagiakan atau mensejahterakan. Dengan cara ini hemat saya cita-cita atau harapan kita akan yang terbaik menjadi nyata dan apa yang terbaik menjadi milik bersama alias sama-sama dihayati. “Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?..Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” (Gal3:13). Sapaan atau pertanyaan refleksif Paulus kepada orang-orang di Galatia ini kiranya juga diarahkan pada kita semua, maka marilah kita mawas diri berdasar pertanyaan/sapaan tersebut di atas! Yesus Kristus yang disalibkan setiap kali kita kenangkan ketika kita mengawali atau mengakhiri doa atau ibadat kita atau kegiatan/kesibukan kita. Bukankah dengan membuat tanda salib tersebut berarti kita berkehendak untuk bertindak sesuai dengan kehendak Yesus atau meneladan cara bertindakNya. “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun” (Luk4:1). Begitulah cara bertindak Yesus mengawali tugas perutusanNya, agar ketika melaksanakan tugas perutusan senantiasa dijiwai oleh Roh Kudus. Kiranya kita semua juga berharap agar ‘dalam melangkah ke padang gurun kehidupan masa kini yang sarat dengan cobaan dan godaan’ kita dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga kita dapat melawan atau mengalahkan aneka godaan dan cobaan yang hendak mencelakakan kita atau menjauhkan kita dari Tuhan yang telah menganugerahi rahmat. Ingatlah bahwa ketika kita dibaptis berarti kita telah ‘dipersembahkan/disisihkan bagi Tuhan secara total’ berarti segala ‘cara bertindak’ kita masa kini adalah ‘persembahan diri pada Tuhan’ melalui pekerjaan atau kesibukan kita sehari-hari. “Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus” (Luk1:69-70) Jakarta, 12 Oktober 2006 Tgl 11Oct2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J ( www.ekaristi.org )
Only registered users can write comments. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |
|||
| Last Updated ( Tuesday, 24 October 2006 ) | |||
| < Prev | Next > |
|---|