| Shout It! | |
|---|---|
|
| Upcoming Events |
|---|
| There are no upcoming events! |
| Login Form |
|---|
| Who's Online |
|---|
| Hits Counter |
|---|
| Visitors: 151952 |
| Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan |
|
|
|
|
Written by Rm.I. Sumarya, S.J at Friday, 20 October 2006 (184 hits) “Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Ef1:15-23 ; Luk12:8-12) “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk12:8-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: “Apa anda pernah berurusan dengan polisi?”, demikian pertanyaan hakim kepada ‘seorang tertuduh’ (S). “Pernah”, jawab S. “Kapan?”, pertanyaan lebih lanjut dari hakim. “Sejak lahir”, jawab S. “Lho, sejak lahir?”, tanggapan pak hakim dengan penuh pertanyaan. “Ya, karena bapak saya polisi”, penjelasan S, yang disambut tawa-ria oleh para pengunjung di pengadilan. Berhadapan dengan pejabat pemerintah atau penguasa sering orang merasa takut; ya mungkin jika bersalah boleh saja takut, tetapi jika tidak bersalah hendaknya tidak takut dan tenang-tenang saja, damai. Dalam ketenangan dan kedamaian, kondisi hati, jiwa, akal budi dan tubuh orang akan tetap segar-bugar sehingga dapat memandang dan menyikapi segala sesuatu dengan jernih dan memadai. Hidup tenang dan damai rasanya kurang lebih sama dengan hidup dijiwai oleh Roh Kudus. Kita beriman bahwa Roh Kudus berkarya luar biasa di dunia ini dalam diri ciptaanNya, terutama manusia; karyaNya tidak terjangkau sepenuhnya oleh hati, jiwa dan akal budi kita. “Betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.” (Ef1:19-21) Namun jika kita membuka hati, jiwa dan akal budi kita padaNya di dalam berbagai kesempatan dimana kita merasa sendirian dan terjepit Ia ‘akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan’. Untuk menunjukkan bahwa kita membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga kita berarti kita senantiasa melakukan apa yang baik, benar, suci dst.. atau seoptimal mungkin berusaha melaksanakan kehendak Tuhan dalam segala cuaca. Apa yang diajarkan oleh Roh Kudus kepada kita adalah apa-apa yang baik, benar dan suci, maka mendengarkan dan melaksanakan ajaranNya kita akan semakin baik, benar dan suci dan dengan demikian tidak akan kuatir terhadap berbagai macam tantangan dan hambatan dalam hidup maupun menghayati panggilan serta melaksanakan tugas perutusan. “Setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku,” (Ef1:15-16). Apa yang dialami Paulus ini hendaknya juga menjadi pengalaman kita semua atau paling tidak cara hidup kita mendekati pengalaman tersebut. Suatu ajakan atau panggilan bagi kita semua untuk dengan rendah hati mendengarkan karya Roh Kudus atau buah hidup beriman dalam diri saudara dan sesama kita. Dengan kata lain kita dipanggil untuk saling mendengarkan, melihat, mengakui dan mensyukuri kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri kita sendiri maupun sesama kita. Kami yakin dalam diri kita masing-masing,yang lemah dan rapuh ini, kiranya lebih banyak kebaikan daripada kejahatan, tentu saja kebaikan tersebut merupakan buah karya Roh Kudus. Kita semua dipanggil untuk ber’positif thinking’ alias mahir dalam hal kebaikan atau mahir dalam Roh; dan dengan demikian kita akan dengan mudah untuk mengasihi, bersyukur dan berdoa, mendoakan sesama dan saudara-saudari kita. Marilah kita mengasihi semua orang tanpa batas SARA, waktu maupun tempat, karena kita adalah murid atau pengikut Yesus, Penyelamat Dunia, yang menghendaki agar seluruh dunia seisinya selamat, damai dan sejahtera. Kasih sejati memang tidak kenal batas; kasih yang dibatasi atau dengan ‘catatan kaki’ hemat saya bukan kasih. Kasih adalah bebas merdeka, lepas bebas, tanpa syarat. “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya” (Mzm8:2-5) Jakarta, 21 Oktober 2006
Only registered users can write comments. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |
||
| Last Updated ( Tuesday, 24 October 2006 ) | ||
| < Prev | Next > |
|---|