| Shout It! | |
|---|---|
|
| Upcoming Events |
|---|
| There are no upcoming events! |
| Login Form |
|---|
| Who's Online |
|---|
| Hits Counter |
|---|
| Visitors: 187900 |
| "Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri " |
|
|
|
|
Written by Rm. I. Sumarja, S.J at Sunday, 22 October 2006 (271 hits) “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri” (Ef2:1-10 ; Luk12:13-21) “Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk12:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan dan mengenangkan St.Yohanes dari Capestrano, imam pelindung para pastor/ perawat rohani Angkatan Bersenjata, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: Angkatan Bersenjata di negara-negara di dunia ini secara yuridis pada umumnya “berdiri di atas/berada di bawah semua golongan” alias netral, tidak memihak suku, agama, ras atau golongan tertentu. Keberadaan dan kehadiran mereka demi keselamatan dan kesejahteraan semua orang/warganegara, bukan demi dirinya sendiri. Namun yang terjadi sering tidak seideal seperti itu: ada kelompok atau oknum dari Angkatan Bersenjata yang mem-‘backing’ orang, perusahaan, golongan tertentu demi keuntungan diri sendiri, bahkan sering lebih berbisnis daripada berbakti pada nusa dan bangsa. Di Indonesia ini bahkan oknum-oknum tertentu menjadi provokator kerusuhan atau penyebab kerusuhan dengan ‘senjata’nya. Maka situasi kacau dan rusuh sampai kini tiada henti, muncul korban-korban tak berdosa sampai mati. Itu semua terjadi karena “orang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, tetapi tidak kaya di hadapan Allah”. Maka bercermin dari bacaan Injil/sabda Yesus hari ini saya mengajak dan mengingatkan siapapun yang berkesempatan untuk dengan mudah memperoleh atau mengumpulkan harta/uang, hendaknya tidak hanya untuk diri sendiri melainkan diperuntukkan bagi semua orang terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Untuk itu kiranya kita dapat belajar dari Muhamad Yunus, bankir di Bangladesh, yang baru saja memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian. Muhamad Yunus memanfaatkan kekayaan/uangnya untuk menolong orang-orang miskin; ia melaksanakan pola ‘mikro bisnis’ bukan ‘makro bisnis’. Ingatlah juga bahwa semua harta kekayaan atau uang yang kita peroleh atau nikmati saat ini berasal dari partisipasi atau keringat orang-orang miskin juga (buruh, pegawai??). Marilah kita semua menjadi ‘imam’ = penyalur berkat Tuhan bagi semua manusia dan fasilitator keluh kesah manusia pada Tuhan. Jika kebersamaan kita ini bagaikan tubuh kita yang memiliki sekian banyak anggota tubuh yang kelihatan, marilah kita menjadi ‘leher’ bagi tubuh (‘leher’ = penyalur yang baik, tidak pernah korupsi atau menyakiti). “Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef2:8-9). Peringatan Paulus kepada umat di Efesus ini layak menjadi permenungan kita. Secara kebetulan hari ini hari terakhir saudara-saudari kita umat Islam mengakhiri bulan suci/matiraga atau mungkin hari ini telah merayakan ‘hari kemenangan atas setan’, maka marilah kita menyatukan diri dengan kegembiraan saudara-saudari kita ini. Suasana hari-hari ini kiranya ditandai oleh ‘saling bersalam-salaman’ atau ‘berselamat-selamatan’ dan kegiatan ini diwarnai oleh rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan. Kiranya semuanya menghayati bahwa hal itu ‘bukan hasil usaha/pekerjaan sendiri, melainkan pemberian Allah’, sehingga tidak ‘ada orang yang memegahkan diri’. Suasana macam itu rasanya menjadi idaman atau harapan semua orang. Maka marilah kesadaran dan penghayatan bahwa segala sesuatu merupakan anugerah Allah kita wujudkan setiap hari, dalam keluarga, tempat kerja/kantor dan masyarakat kita. Kita semua adalah orang-orang beriman, sama-sama beriman, hendaknya aneka perbedaan tidak menjadi gangguan, melainkan menjadi sarana untuk membangun dan meningkatkan atau memperteguh kasih persaudaraan di antara kita. “Selamat bersalam-salaman, Selamat saling meneruskan pemberian atau berkat Allah”. “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya “ (Mzm100:2-3) Jakarta, 23 Oktober 2006 (Selamat bagi para pastor/perawat rohani Angkatan Bersenjata). Tgl 22Oct2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J
Only registered users can write comments. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |
||
| Last Updated ( Tuesday, 24 October 2006 ) | ||
| < Prev | Next > |
|---|