Main Menu
Home
About DOJCC
Jadwal Rutin DOJ Bali
DOJ Bali News
International DOJ News
Youth DOJ Bali
Daily Word
Photo Gallery
Photo on Multiply
DOJ Video
Guest Book
Visit DOJ International
100 Photo Comments
Calendar Events
Contact Us
Document
File Icon Fresh Juice Des 2009 (376)
Shout It!


You must login/register to shout!
Get your account here!
Upcoming Events
There are no upcoming events!
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
Who's Online
We have 9 guests online
Hits Counter
Visitors: 372374
Photo Gallery

NEW_WAY_OF_LIFE_I_001.JPG
 

Yes Lord....
 

REKREK_052.JPG
 

REKREASI_10.jpg
 

KRK_21.JPG
Home arrow Daily Word arrow Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala
Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala PDF Print E-mail
Written by Rm.I. Sumarya, S.J at Tuesday, 24 October 2006 (615 hits)
“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala”

(Ef2:12-22 ; Luk12:35-38)

"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka” (Luk12:35-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Apa yang disebut ‘persiapan’ merupakan sesuatu yang penting. Konon ada rumor: jika persiapan baik maka kebersilan atau sukses sudah tinggal memetik, ada di depan mata. Masa pacaran dan tunangan adalah persiapan untuk hidup berkeluarga; belajar adalah persiapan untuk ujian, bahkan para atlit atau peserta lomba sering dipersiapkan begitu lama secara afektif dan efisien, dst.. Hidup dan kesibukan kita setiap hari ini hemat saya adalah ‘persiapan untuk mati atau dipanggil Tuhan’. Cukup banyak orang takut ‘dipanggil Tuhan’ dan secara konkret hal itu sering dapat kita lihat menit-menit atau detik-detik terakhir menjelang kematian seseorang. Jika orang tidak siap atau tidak rela dipanggil Tuhan maka ia sangat gelisah dan menunjukkan kegelisahannya dengan ‘gerakan anggota badan yang sulit dikendalikan’ (Jawa: ‘mecati’), sebaliknya bagi orang yang senantiasa siap sedia dipanggil Tuhan maka detik-detik terakhir hidupnya nampak sedikit gelisah namun lebih kuat keceriaan dan ketenangannya, sehingga ketika telah mati, menjadi mayat nampak lebih cantik atau ngganteng (dalam hal ini berlakulah rumor bahwa mati berarti tidur pulas penuh kemesraan). “Siap sediakah kita sewaktu-waktu dipanggil Tuhan?”. Jika dalam hidup sehari-hari orang terbiasa bergaul dan bertemu dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, kiranya ‘panggilan Tuhan’ merupakan kebahagiaan sejati. Terbiasa bergaul dan bertemu dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari berarti senantiasa hidup baik, berbudi pekerti luhur; orang yang bersangkutan semakin mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan maupun sesamanya tanpa batas ruang dan waktu maupun SARA. Dengan kata lain orang yang bersangkutan senantiasa gembira ria, damai dan tenang, bukan karena harta kekayaan, pangkat/kedudukan atau kehormatan yang ia miliki, melainkan karena Tuhan senantiasa menyertainya. Dalam kegembiraan sejati macam itu orang juga tidak mudah jatuh sakit (sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuhnya), dan senantiasa siap sedia dipanggil Tuhan kapan saja. Dan kepada yang dipanggil Tuhan dengan penuh syukur kita ucapkan: “Selamat jalan memasuki rumah idaman masa depan bersama Tuhan”

“Kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan” (Ef2:19-21). Sapaan Paulus kepada umat di Efesus ini rasanya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Kita semua adalah sewarga dengan orang-orang kudus, orang-orang yang sepenuhnya menyerahkan diri kepada Tuhan. Dengan pembaptisan kita menjadi anggota keluarga Allah secara formal atau liturgis. Apakah pembaptisan hanya akan berhenti secara formal atau liturgis saja? Rasanya kita semua harus bekerjasama atau bergotong-royong dalam menghayati rahmat pembaptisan, dimana kita dianugerahi rahmat kekuatan untuk senantiasa hanya mengabdi atau melayani Tuhan saja dan menolak semua godaan setan. Rahmat dasar atau utama ini hendaknya jangan kita sia-siakan atau abaikan, entah uskup, imam, bruder, suster atau awam sama-sama memperoleh rahmat yang sama. Dengan kata lain sekiranya kita semua menghayati rahmat pembaptisan secara utuh dan konsekwen, hemat saya kebersamaan hidup kita bagaikan “bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus”. Perbedaan-perbedaan yang ada diantara kita bukan menjadi hambatan atau halangan melainkan menjadi kekuatan atau rahmat untuk saling membangun dan memperdalam penghayatan rahmat pembaptisan, maka hendaknya kita ramai-ramai menghayati apa yang sama di antara kita maka apa yang berbeda di antara kita akan fungsional dan berguna dalam hidup persaudaraan sejati, saling mengasihi antar sesama dan saudara. Tidak ada ‘yang asing’ di antara kita karena kita semua adalah saudara, sama-sama beriman, sama-sama diciptakan, dikasihi dan dipanggil oleh Tuhan.

“Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan” (Mzm85:11-14)

Jakarta, 24 Oktober 2006
Tgl 23Oct2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J

Comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot )

Last Updated ( Tuesday, 24 October 2006 )
 
< Prev   Next >