| Shout It! | |
|---|---|
|
| Upcoming Events |
|---|
| There are no upcoming events! |
| Login Form |
|---|
| Who's Online |
|---|
| Hits Counter |
|---|
| Visitors: 131792 |
| Photo Gallery |
|---|
Daily Word
Santa Skolastika : Merpati Kristus | Santa Skolastika : Merpati Kristus |
|
|
|
|
Written by Grosso Mariano ( Vacaredeo ) at Friday, 27 October 2006 (273 hits) Hagiografi: Santa Skolastika : Merpati Kristus 1. Kisah Hidup Sang Merpati "Ini untukmu." "Aku juga punya sesuatu untukmu." Sepasang anak laki-laki dan perempuan tampak rukun sekali bermain di rumputan hijau, di bawah matahari musim semi yang menghangatkan kota kelahiran mereka, Norcia. Norcia adalah sebuah kota di Italia. Di sanalah lahir sepasang anak kembar pada tahun 480, yang diberi nama Benediktus dan Skolastika. Orang tuanya tentu tak menyangka kalau suatu hari kedua anak kembar mereka akan menjadi Santo dan Santa. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, hingga tak terasa si kembar pun beranjak dewasa. "Ia adalah seorang gadis manis yang berpenampilan sederhana, namun kaya dalam iman dan kasih. Di balik sorot matanya yang lembut terdapat keteguhan hati untuk berjalan dalam kebaikan," tulis Guglielmo Salvi seorang imam Italia. St. Gregorius Agung yang mengenal St. Benediktus secara dekat mengatakan bahwa sudah sejak kecil Skolastika mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Setelah dewasa, ia mengikuti jejak langkah kakak kembarnya untuk hidup membiara. Dalam bimbingan saudara kembarnya, Skolastika mendirikan biara atau komunitas sendiri, dan hidup bersama para susternya sebagai seorang pertapa perempuan atau yang biasa disebut rubiah. Di antara para susternya, Skolastika dikenal sebagai rubiah yang kontemplatif dan penuh dengan Roh Kudus. Setiap setahun sekali, ia meninggalkan biaranya untuk berjumpa dengan Benediktus kakaknya di sebuah pondok kecil yang terletak di antara pertapaan Skolastika dan Benediktus. Di sanalah mereka melepaskan rindu dan bercakap-cakap asyik sekali tentang hal-hal rohani. 7 Februari 547 merupakan hari terakhir perjumpaan Skolastika dengan kakaknya, Benediktus. Pagi itu, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya Skolastika dengan semangat meninggalkan Pertapaan bersama beberapa susternya untuk berjumpa dengan Benediktus, saudaranya. Rupanya di sana sang kakak telah menunggu. Setelah berjumpa, segera mereka terlibat dalam pembicaraan yang hangat mengenai hal-hal surgawi yang tentu saja amat mereka sukai. Mereka berdoa bersama, bercakap-cakap, dan hanya berhenti sebentar untuk makan sedikit. Percakapan itu begitu manisnya karena mengangkat kedua hati kakak beradik itu kepada Tuhan, yang amat mereka cintai. Api cintakasih ilahi berkobar-kobar memenuhi pondok kecil tempat mereka berdua berjumpa dan bercakap-cakap. Tak terasa akhirnya matahari pun bergulir di ufuk barat dan malam mulai merambat. Menyadari hari mulai gelap, segera Benediktus berdiri untuk pamit pulang ke pertapaannya. Akan tetapi, segera Skolastika menahan kakaknya dan berkata, "Aku mohon kepadamu, jangan tinggalkan aku saat ini. Marilah kita bercakap-cakap sepanjang malam sampai besok pagi, dan menikmati sukacita surgawi yang memenuhi setiap kata dalam percakapan kita." "Kau ini bicara apa, Skolastika? Mana mungkin kita seorang pertapa bermalam di luar Pertapaan kita?" rupanya Benediktus tidak setuju dengan permintaan Skolastika. "Apa kata para frater nanti jika aku tidak pulang untuk Ibadat Malam bersama mereka?" sambungnya lagi. Melihat kakaknya menolak permintaannya, Skolastika tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk diam, meletakkan kedua tangannya yang tergenggam di atas meja, dan mulai berdoa. Ia percaya Tuhan sangat baik dan mendengarkan setiap doanya. Malam itu langit cerah dan tak berawan sedikit pun. Namun, setelah Skolastika berdoa, segera terdengar bunyi angin menderu disertai gemuruh air hujan yang turun dengan derasnya. Tak diragukan lagi, inilah hujan mujizat! Melihat hujan yang turun demikian lebatnya tentu saja Benediktus akhirnya memutuskan untuk tidak jadi pulang. "Apa yang kaulakukan adikku? Semoga Allah yang mahakuasa mengampuni engkau." Akan tetapi, dengan sorot mata jenaka Skolastika menggoda kakaknya, "Aku memohon kepadamu, tetapi tak kaudengarkan. Akhirnya aku memohon kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan aku. Kalau engkau mau pulang, boleh saja. Pulanglah, tinggalkan aku sekarang.," jawab Skolastika tersenyum. Namun, tentu saja Benediktus tidak dapat pulang dan akhirnya mereka meneruskan percakapan mereka sampai pagi. 8 Februari 547, mereka kembali pulang ke Pertapaan masing-masing, dan saat itulah untuk terakhir kalinya mereka bertemu. Sampai di rumah Skolastika jatuh sakit. "Ia lelah, namun kerinduannya akan surga begitu kuat tak tertahankan. Sakitnya lebih disebabkan cintanya yang tak tertanggungkan kepada Allah daripada karena keletihannya," tulis Kardinal Schuster. 10 Februari 547, dua hari kemudian, Skolastika akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Di hari yang sama pula, saat itu Benediktus sedang berdoa di dalam selnya. Matanya memandang ke awan-awan dari jendela kamarnya yang terbuka. Namun, tiba-tiba dilihatnya jiwa adiknya keluar dari tubuhnya dalam rupa merpati putih yang tulus dan suci, terbang menuju ke langit yang segera disambut oleh Yesus dan para malaikat di surga. Benediktus segera sadar, bahwa adiknya sudah meninggal. Bergegas ia menyuruh beberapa fraternya untuk menjemput jenazah adiknya, dan disemayamkannya di dalam kubur yang sebetulnya telah disiapkan untuk dirinya sendiri. Pesta Santa Skolastika dirayakan setiap tanggal 10 Februari. Pada tanggal itulah ia lahir bagi kerajaan Surga, dan meninggalkan teladan kesucian bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Merpati di antara para perawan Terbang menembus awan-awan Menuju kemuliaan 2. Teladan Kesucian 2.1 Iman "Orang benar hidup oleh iman." Iman adalah penerang dalam hidup kristiani. Imanlah sumber kekuatan saat hidup mengalami kegelapan, kekeringan, maupun kesulitan. Dan yang terutama di atas segalanya, imanlah yang menghantar jiwa kepada Allah. Saat mata tak dapat melihat Allah, akal budi tak mengerti Allah, jiwa masih tetap dapat sampai kepada Allah karena iman. Iman dalam diri Santa Skolastika begitu hidup, sehingga sudah sejak kecil ia mempersembahkan dirinya kepada Allah. Terlebih lagi, imannya ini tampak ketika ia berdoa setelah kakaknya menolak dia. Imannya yang hidup telah membuat Allah berkenan menurunkan hujan untuk menjawab doanya. 2.2 Kerinduan akan surga Dalam hati Santa Skolastika ada kerinduan yang berkobar-kobar akan pertemuannya dengan Yesus dari muka ke muka di surga. Hati dan pikirannya senantiasa terarah ke surga, dan pembicaraan yang paling disukainya adalah hal-hal surgawi. Tak aneh setiap tahun dengan penuh semangat ia pergi meninggalkan biara untuk berjumpa dengan kakaknya. Ia tahu sepanjang hari itu akan dipenuhi dengan percakapan-percakapan surgawi yang semakin mengobarkan cintanya kepada Yesus. Terlebih ketika ia hampir sampai di akhir hidupnya, dalam percakapan terakhir dengan sang kakak, Santa Skolastika memohon supaya perbincangan mereka diperpanjang satu malam lagi. Sesungguhnyalah, kekudusan surgawi itu tak akan pernah dicapai jika tak ada kerinduan dalam hati untuk menggapainya. Dalam hatinya, tak pernah terlupakan sejenak pun apa yang menjadi hasrat jiwa seumur hidupnya, yaitu mencintai dan melayani Tuhan dalam hidup ini, serta menikmati persatuan dengan-Nya di surga abadi. Kehidupan orang benar sebetulnya tidak lain merupakan kerinduan yang terus menerus akan kesempurnaan. 2.3 Kerinduan untuk dikuduskan bagi Tuhan Sejak kecil Santa Skolastika rindu untuk mempersembahkan seluruh dirinya, jiwa dan raga kepada Tuhan. Bagai roti yang dikonsekrasi menjadi Tubuh Kristus, demikianlah ia ingin menguduskan dirinya bagi Allah saja dan menjadi Mempelai Kristus. Hidup suci ini dijalaninya dengan berusaha senantiasa berkenan di hati Allah, baik dalam segala perbuatan dan tingkah lakunya, tutur katanya, maupun jalan pikirannya. Segala sesuatu dilakukannya hanya demi kemuliaan Tuhan untuk menyenangkan hati-Nya. Baginya pujian kepada Allah bukanlah lagu pujian yang dinyanyikan, tetapi ia memuji Tuhan dengan hidupnya, dengan perbuatannya, dengan kebaikan hatinya, dengan tutur katanya. Setiap orang memiliki kelemahan masing-masing, tak terkecuali juga para kudus yang masih hidup di dunia ini. Akan tetapi, kekudusan itu pun akhirnya diperolehnya karena kemauan mereka untuk bangkit kembali setelah mengalami kejatuhan. Setiap jatuh dalam kelemahan dengan segera mereka berseru kepada Allah mohon pertolongan, sehingga akhirnya mereka dapat mensyukuri setiap kegagalan dan kejatuhan, karena membuat mereka semakin bergantung kepada rahmat Allah. Bagi Santa Skolastika, memberikan diri untuk dikuduskan bagi Allah berarti pula memberikan hidupnya bagi keselamatan dan pertobatan sesama. Itulah sebabnya walau ia seorang rubiah kontemplatif yang jarang sekali keluar dari biara, namun hatinya menembus tembok biara dan merangkul seluruh dunia. 2.4 Kepasrahan kepada Allah Kepasrahan merupakan buah dari harapan yang senantiasa bersemi dalam diri Santa Skolastika. Kepasrahannya kepada Allah yang total terbentuk karena ia menaruh seluruh harapannya di tangan penyelenggaraan ilahi. Kepasrahan Santa Skolastika cukup mengagumkan karena sudah sejak kecil ia meletakkan hidupnya, hati, jiwa, dan raganya di tangan Bapa yang kekal. Kepada para susternya ia menulis, "Tuhanlah satu-satunya harapan sejati kita." Harapan tak mengecewakan, hal ini disadari penuh olehnya. 2.5 Cinta kepada Allah Allah mengasihi manusia dengan kasih abadi. Kasih-Nya inilah yang telah menyentuh Santa Skolastika secara mendalam sehingga dalam hatinya berkobar cinta yang menyala-nyala kepada Allah bahkan sejak ia kecil. Dalam hidupnya yang tersembunyi, tiada lain yang didambakannya selain kemanisan hubungan dengan Allah. Ia ingin selalu menyenangkan hati Allah dalam segala hal. ".Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya." (1Kor.7:32b) Santa Skolastika mencintai Allah seumur hidupnya. Jalan hidupnya adalah jalan pencarian menuju Allah yang menjadi sumber sukacitanya. Ia mengatakan bahwa mencintai Tuhan berarti hidup dalam pencarian akan Allah dan menyerahkan seluruh kehendak pribadinya kepada Dia. 2.6 Cinta kepada sesama Cintakasih kepada Allah terukur dari cintakasih kepada sesama. Santa Skolastika memiliki hati yang tulus dalam mengasihi para susternya dan sesama. Ia senantiasa memberikan miliknya yang lebih baik dan berharga bagi sesamanya, sedangkan yang kurang baik dipilihnya untuk dirinya sendiri. Walau ia masuk ke dalam biara meninggalkan dunia ramai untuk bertapa, namun hatinya merangkul dunia dan dibawanya beban-beban dunia dalam asap doanya. "Seorang rubiah yang sejati adalah mereka yang meninggalkan dunia untuk bersatu dengan dunia." 2.7 Cinta Berdoa Cintakasih bagaikan semen yang mempersatukan jiwa dengan Allah. Satu-satunya yang membangkitkan cintakasih kepada Allah tidak lain adalah doa. Santa Skolastika belajar berdoa sejak kecil dalam keluarganya. Kesetiaan dan ketekunannya berdoa membuat jiwanya semakin hari semakin dekat dengan Allah. Dalam doa ia merasakan keintiman dengan Dia dan kemanisan cintakasih ilahi di dalam Dia. Bagi Santa Skolastika, doa adalah nafas jiwanya. Hidup siapakah yang masih dapat bertahan tanpa bernafas? Dalam percakapan tahunan antara Santa Skolastika dan kakaknya, doa juga selalu mendasari seluruh hari mereka. Santa Skolastika juga mengatakan bahwa doalah yang memekarkan benih-benih panggilan dalam dirinya. Doa menumbuhkan Sabda yang tertabur, menuai cinta yang tertanam. Doa adalah segalanya bagi Sang Santa sehingga tak heran doanya menembus awan menurunkan hujan. Doa adalah hidupnya, dan hidupnya adalah doa. 2.8 Kemanisan dan Kelembutan Kemanisan dan kelembutan adalah akar dari kasih. Para susternya mengatakan bahwa Santa Skolastika sangat halus perangainya, sopan tutur katanya, lembut, dan sabar. Hal ini tampak ketika ia meminta kakaknya untuk tinggal semalam lagi. Dalam bahasa Italia ia berkata, "Ti chiedo proprio per favore..." yang artinya, "Aku mohon kepadamu..." Kata "per favore" yang berarti memohon merupakan kata yang sopan, yang hanya dipakai orang Italia kepada orang yang mereka hormati dan segani. Tentu saja jarang sekali dipakai untuk hubungan kakak beradik. Akan tetapi, Santa Skolastika memakai kata yang sopan itu walau hanya berbicara dengan kakaknya. Ini menunjukkan budi pekertinya yang luhur mulia. Kemanisan dan kelembutannya juga tampak ketika sang kakak menolak permohonannya untuk tinggal semalam lagi. Menghadapi penolakan itu, Santa Skolastika tidak bersikeras mendesak, ia hanya diam dan kemudian duduk berdoa. Santa Skolastika menyadari betapa kebajikan yang satu inilah yang telah menghantarnya kepada kedamaian. Dalam hatinya bergema Sabda Yesus, "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." (Mat.11:29) 2.9 Jenaka Santa Skolastika memiliki hati yang gembira dan jenaka. Pepatah Eropa mengatakan humor adalah garam kehidupan. Tanpa kejenakaan hidup menjadi tawar, sehingga Santo Fransiskus dari Sales mengatakan, "Seorang kudus yang sedih adalah orang kudus pemurung." Bahkan lebih ekstrem lagi Santo Filipus Neri berkata bahwa tak ada tempat bagi orang murung di surga. Kejenakaan Santa Skolastika terungkap ketika ia menggoda kakaknya begitu hujan badai turun dengan lebatnya. "Aku memohon kepadamu, tetapi tak kaudengarkan. Akhirnya aku memohon kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan aku. Kalau engkau mau pulang, boleh saja. Pulanglah, tinggalkan aku sekarang.," kata Santa Skolastika sambil tersenyum. 2.10 Kerinduan untuk hidup tersembunyi dalam kerendahan hati Santa Skolastika menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam ketersembunyian di pertapaannya. Di sanalah ia mengalami Allah, tenggelam di dalam Allah, dan tersembunyi di dalam Allah. Ia tak senang memamerkan apa pun dari dirinya karena ia menyadari segala kebaikan yang ada padanya hanyalah rahmat semata. Ia hanya ingin menundukkan diri, terbenam dalam Tuhan. Di sanalah ia menjalani hidupnya dalam ketersembunyian dan kerendahan hati. "Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya.Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang." (Hos.2:13,18) 2.11 Cinta Keheningan Keheningan adalah atmosfer doa. Doa merupakan jalinan hubungan pribadi dengan Allah. Oleh karena itu, untuk dapat mendengarkan suara-Nya jiwa perlu masuk ke dalam keheningan. Doa yang tidak masuk ke dalam keheningan bukanlah doa, karena itu hanya akan menjadi hubungan satu arah saja, bukan dua arah timbal balik. Pertapaan Santa Skolastika diliputi dengan keheningan yang tentram. Sekalipun jarak antara biara Santa Skolastika dan Santo Benediktus tidak terlalu jauh, mereka hanya bertemu setahun sekali. Bagi mereka berdua, hubungan dengan Allah jauh lebih utama daripada hubungan apa pun di dunia ini. Ketika mereka bertemu pun, sepanjang hari mereka penuhi dengan suasana doa dan percakapan suci. Keheningan menghantar jiwa kepada kontemplasi. Dalam kontemplasi jiwa dan Allah saling memandang dalam cintakasih yang murni. Buah-buah kontemplasi inilah yang kemudian memekarkan bunga-bunga kebajikan dalam diri Santa Skolastika. Cintakasihnya kepada Allah dan sesama justru semakin berkembang dalam keheningan. 2.12 Semangat berkurban Sejak awal pelayanan-Nya, Yesus senantiasa menyerukan pertobatan kepada semua orang. Ia mewartakan Kerajaan Allah dan mengundang setiap orang untuk masuk ke dalam kerajaan abadi itu lewat pertobatan. Santa Skolastika yang telah mempersembahkan hidupnya sejak kecil, telah terbiasa pula untuk melakukan kurban-kurban sederhana demi pertobatan umat manusia. Santo Gregorius Agung menulis bahwa dalam pertemuan terakhir dengan kakaknya, Santa Skolastika hanya makan sedikit saja, itu pun setelah hari menjelang petang. Berdua dengan kakaknya, ia melakukan puasa dengan hati yang gembira dan damai. Melakukan kurban-kurban kecil untuk Yesus adalah sukacita dalam Roh Kudus. Ia mempersembahkan kurban-kurbannya itu dengan hati gembira karena Allah mengasihi mereka yang memberi dengan sukacita. (bdk. 1 Kor. 9:7) "Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat." (Kol.1:24) 2.13 Ketulusan dan Kesucian Hati Hal yang paling berkesan dari Santa Skolastika bagi para susternya adalah hatinya yang tulus dan suci bagai merpati. Tak heran ketika meninggal kakaknya melihat jiwa adiknya terbang ke surga dalam rupa merpati putih. Ketulusan dan kesuciannya inilah yang telah membuatnya dapat segera memandang wajah Kristus, Kekasih hatinya. "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Mat.5:8) Kesucian adalah mutiara kebajikan. Kesucian dan ketulusan hatinya ini diperolehnya dengan senantiasa berkata "Ya" pada setiap kehendak Allah. Baginya kehendak pribadi sudah tidak penting lagi sehingga tiada pamrih apa-apa lagi yang membebani jiwanya. 2.14 Devosi kepada Bunda Maria Santa Skolastika sangat mencintai Bunda Maria. Ia menjadikan Maria sebagai ibunya karena sejak kecil ibu kandungnya sudah meninggal dunia. Hampir dalam segala hal Santa Skolastika berusaha mengikuti teladan Bunda Maria, khususnya dalam kerendahan hati, kesucian, iman, kepasrahan, dan cintakasih yang besar kepada Tuhan. Sebagaimana doa Maria yang mengubah air menjadi anggur, demikian pula doa Santa Skolastika telah mengubah awan menjadi hujan deras. Maria dengan kata "Ya"-nya kepada Allah telah menjadi Bunda Allah dan Bunda kita semua, demikian pula Santa Skolastika dengan kata "Ya"-nya telah menjadi ibu bagi banyak jiwa. (Sumber: Grosso Marianno, Santa Scolastica, Subiaco, 1999) Sharing: * Dari beberapa kebajikan yang ada dalam diri Santa Skolastika, kebajikan manakah yang paling sedikit dalam dirimu? * Sharingkanlah perjuanganmu dalam memperoleh kebajikan itu.
Only registered users can write comments. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |
||
| Last Updated ( Sunday, 29 October 2006 ) | ||
| < Prev | Next > |
|---|