Main Menu
Home
About DOJCC
Jadwal Rutin DOJ Bali
DOJ Bali News
International DOJ News
Youth DOJ Bali
Daily Word
Photo Gallery
Photo on Multiply
DOJ Video
Guest Book
Visit DOJ International
100 Photo Comments
Calendar Events
Contact Us
Shout It!


You must login/register to shout!
Get your account here!
Upcoming Events
There are no upcoming events!
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
Who's Online
Hits Counter
Visitors: 131792
Photo Gallery

DOJCC_2_9_26.JPG
 

2nd_DOJ_Birthday_13.JPG
 

RETRET_ANGKATAN_IV_027.JPG
 

eat.jpg
 

agatha_05.JPG
Home arrow Daily Word arrow Santa Skolastika : Merpati Kristus
Santa Skolastika : Merpati Kristus PDF Print E-mail
Written by Grosso Mariano ( Vacaredeo ) at Friday, 27 October 2006 (273 hits)
Hagiografi: Santa Skolastika : Merpati Kristus

1. Kisah Hidup Sang Merpati

"Ini untukmu." "Aku juga punya sesuatu untukmu." Sepasang anak laki-laki dan
perempuan tampak rukun sekali bermain di rumputan hijau, di bawah matahari
musim semi yang menghangatkan kota kelahiran mereka, Norcia. Norcia adalah
sebuah kota di Italia. Di sanalah lahir sepasang anak kembar pada tahun 480,
yang diberi nama Benediktus dan Skolastika. Orang tuanya tentu tak menyangka
kalau suatu hari kedua anak kembar mereka akan menjadi Santo dan Santa.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, hingga tak terasa si kembar pun
beranjak dewasa. "Ia adalah seorang gadis manis yang berpenampilan sederhana,
namun kaya dalam iman dan kasih. Di balik sorot matanya yang lembut terdapat
keteguhan hati untuk berjalan dalam kebaikan," tulis Guglielmo Salvi seorang
imam Italia.

St. Gregorius Agung yang mengenal St. Benediktus secara dekat mengatakan bahwa
sudah sejak kecil Skolastika mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Setelah
dewasa, ia mengikuti jejak langkah kakak kembarnya untuk hidup membiara. Dalam
bimbingan saudara kembarnya, Skolastika mendirikan biara atau komunitas
sendiri, dan hidup bersama para susternya sebagai seorang pertapa perempuan
atau yang biasa disebut rubiah.

Di antara para susternya, Skolastika dikenal sebagai rubiah yang kontemplatif
dan penuh dengan Roh Kudus. Setiap setahun sekali, ia meninggalkan biaranya
untuk berjumpa dengan Benediktus kakaknya di sebuah pondok kecil yang terletak
di antara pertapaan Skolastika dan Benediktus. Di sanalah mereka melepaskan
rindu dan bercakap-cakap asyik sekali tentang hal-hal rohani.

7 Februari 547 merupakan hari terakhir perjumpaan Skolastika dengan kakaknya,
Benediktus. Pagi itu, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya Skolastika dengan
semangat meninggalkan Pertapaan bersama beberapa susternya untuk berjumpa
dengan Benediktus, saudaranya. Rupanya di sana sang kakak telah menunggu.
Setelah berjumpa, segera mereka terlibat dalam pembicaraan yang hangat mengenai
hal-hal surgawi yang tentu saja amat mereka sukai. Mereka berdoa bersama,
bercakap-cakap, dan hanya berhenti sebentar untuk makan sedikit. Percakapan itu
begitu manisnya karena mengangkat kedua hati kakak beradik itu kepada Tuhan,
yang amat mereka cintai. Api cintakasih ilahi berkobar-kobar memenuhi pondok
kecil tempat mereka berdua berjumpa dan bercakap-cakap.

Tak terasa akhirnya matahari pun bergulir di ufuk barat dan malam mulai
merambat. Menyadari hari mulai gelap, segera Benediktus berdiri untuk pamit
pulang ke pertapaannya. Akan tetapi, segera Skolastika menahan kakaknya dan
berkata, "Aku mohon kepadamu, jangan tinggalkan aku saat ini. Marilah kita
bercakap-cakap sepanjang malam sampai besok pagi, dan menikmati sukacita
surgawi yang memenuhi setiap kata dalam percakapan kita." "Kau ini bicara apa,
Skolastika? Mana mungkin kita seorang pertapa bermalam di luar Pertapaan kita?"
rupanya Benediktus tidak setuju dengan permintaan Skolastika. "Apa kata para
frater nanti jika aku tidak pulang untuk Ibadat Malam bersama mereka?"
sambungnya lagi.

Melihat kakaknya menolak permintaannya, Skolastika tidak berkata apa-apa. Ia
hanya duduk diam, meletakkan kedua tangannya yang tergenggam di atas meja, dan
mulai berdoa. Ia percaya Tuhan sangat baik dan mendengarkan setiap doanya.
Malam itu langit cerah dan tak berawan sedikit pun. Namun, setelah Skolastika
berdoa, segera terdengar bunyi angin menderu disertai gemuruh air hujan yang
turun dengan derasnya. Tak diragukan lagi, inilah hujan mujizat!

Melihat hujan yang turun demikian lebatnya tentu saja Benediktus akhirnya
memutuskan untuk tidak jadi pulang. "Apa yang kaulakukan adikku? Semoga Allah
yang mahakuasa mengampuni engkau." Akan tetapi, dengan sorot mata jenaka
Skolastika menggoda kakaknya, "Aku memohon kepadamu, tetapi tak kaudengarkan.
Akhirnya aku memohon kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan aku. Kalau engkau mau
pulang, boleh saja. Pulanglah, tinggalkan aku sekarang.," jawab Skolastika
tersenyum. Namun, tentu saja Benediktus tidak dapat pulang dan akhirnya mereka
meneruskan percakapan mereka sampai pagi.

8 Februari 547, mereka kembali pulang ke Pertapaan masing-masing, dan saat
itulah untuk terakhir kalinya mereka bertemu. Sampai di rumah Skolastika jatuh
sakit. "Ia lelah, namun kerinduannya akan surga begitu kuat tak tertahankan.
Sakitnya lebih disebabkan cintanya yang tak tertanggungkan kepada Allah
daripada karena keletihannya," tulis Kardinal Schuster.

10 Februari 547, dua hari kemudian, Skolastika akhirnya menghembuskan nafasnya
yang terakhir. Di hari yang sama pula, saat itu Benediktus sedang berdoa di
dalam selnya. Matanya memandang ke awan-awan dari jendela kamarnya yang
terbuka. Namun, tiba-tiba dilihatnya jiwa adiknya keluar dari tubuhnya dalam
rupa merpati putih yang tulus dan suci, terbang menuju ke langit yang segera
disambut oleh Yesus dan para malaikat di surga. Benediktus segera sadar, bahwa
adiknya sudah meninggal. Bergegas ia menyuruh beberapa fraternya untuk
menjemput jenazah adiknya, dan disemayamkannya di dalam kubur yang sebetulnya
telah disiapkan untuk dirinya sendiri.

Pesta Santa Skolastika dirayakan setiap tanggal 10 Februari. Pada tanggal
itulah ia lahir bagi kerajaan Surga, dan meninggalkan teladan kesucian bagi
semua orang yang percaya kepada-Nya.

Merpati di antara para perawan
Terbang menembus awan-awan
Menuju kemuliaan


2. Teladan Kesucian

2.1 Iman

"Orang benar hidup oleh iman." Iman adalah penerang dalam hidup kristiani.
Imanlah sumber kekuatan saat hidup mengalami kegelapan, kekeringan, maupun
kesulitan. Dan yang terutama di atas segalanya, imanlah yang menghantar jiwa
kepada Allah. Saat mata tak dapat melihat Allah, akal budi tak mengerti Allah,
jiwa masih tetap dapat sampai kepada Allah karena iman.

Iman dalam diri Santa Skolastika begitu hidup, sehingga sudah sejak kecil ia
mempersembahkan dirinya kepada Allah. Terlebih lagi, imannya ini tampak ketika
ia berdoa setelah kakaknya menolak dia. Imannya yang hidup telah membuat Allah
berkenan menurunkan hujan untuk menjawab doanya.

2.2 Kerinduan akan surga

Dalam hati Santa Skolastika ada kerinduan yang berkobar-kobar akan pertemuannya
dengan Yesus dari muka ke muka di surga. Hati dan pikirannya senantiasa terarah
ke surga, dan pembicaraan yang paling disukainya adalah hal-hal surgawi. Tak
aneh setiap tahun dengan penuh semangat ia pergi meninggalkan biara untuk
berjumpa dengan kakaknya. Ia tahu sepanjang hari itu akan dipenuhi dengan
percakapan-percakapan surgawi yang semakin mengobarkan cintanya kepada Yesus.
Terlebih ketika ia hampir sampai di akhir hidupnya, dalam percakapan terakhir
dengan sang kakak, Santa Skolastika memohon supaya perbincangan mereka
diperpanjang satu malam lagi.

Sesungguhnyalah, kekudusan surgawi itu tak akan pernah dicapai jika tak ada
kerinduan dalam hati untuk menggapainya. Dalam hatinya, tak pernah terlupakan
sejenak pun apa yang menjadi hasrat jiwa seumur hidupnya, yaitu mencintai dan
melayani Tuhan dalam hidup ini, serta menikmati persatuan dengan-Nya di surga
abadi. Kehidupan orang benar sebetulnya tidak lain merupakan kerinduan yang
terus menerus akan kesempurnaan.

2.3 Kerinduan untuk dikuduskan bagi Tuhan

Sejak kecil Santa Skolastika rindu untuk mempersembahkan seluruh dirinya, jiwa
dan raga kepada Tuhan. Bagai roti yang dikonsekrasi menjadi Tubuh Kristus,
demikianlah ia ingin menguduskan dirinya bagi Allah saja dan menjadi Mempelai
Kristus.

Hidup suci ini dijalaninya dengan berusaha senantiasa berkenan di hati Allah,
baik dalam segala perbuatan dan tingkah lakunya, tutur katanya, maupun jalan
pikirannya. Segala sesuatu dilakukannya hanya demi kemuliaan Tuhan untuk
menyenangkan hati-Nya. Baginya pujian kepada Allah bukanlah lagu pujian yang
dinyanyikan, tetapi ia memuji Tuhan dengan hidupnya, dengan perbuatannya,
dengan kebaikan hatinya, dengan tutur katanya.

Setiap orang memiliki kelemahan masing-masing, tak terkecuali juga para kudus
yang masih hidup di dunia ini. Akan tetapi, kekudusan itu pun akhirnya
diperolehnya karena kemauan mereka untuk bangkit kembali setelah mengalami
kejatuhan. Setiap jatuh dalam kelemahan dengan segera mereka berseru kepada
Allah mohon pertolongan, sehingga akhirnya mereka dapat mensyukuri setiap
kegagalan dan kejatuhan, karena membuat mereka semakin bergantung kepada rahmat
Allah.

Bagi Santa Skolastika, memberikan diri untuk dikuduskan bagi Allah berarti pula
memberikan hidupnya bagi keselamatan dan pertobatan sesama. Itulah sebabnya
walau ia seorang rubiah kontemplatif yang jarang sekali keluar dari biara,
namun hatinya menembus tembok biara dan merangkul seluruh dunia.

2.4 Kepasrahan kepada Allah

Kepasrahan merupakan buah dari harapan yang senantiasa bersemi dalam diri Santa
Skolastika. Kepasrahannya kepada Allah yang total terbentuk karena ia menaruh
seluruh harapannya di tangan penyelenggaraan ilahi.

Kepasrahan Santa Skolastika cukup mengagumkan karena sudah sejak kecil ia
meletakkan hidupnya, hati, jiwa, dan raganya di tangan Bapa yang kekal. Kepada
para susternya ia menulis, "Tuhanlah satu-satunya harapan sejati kita." Harapan
tak mengecewakan, hal ini disadari penuh olehnya.

2.5 Cinta kepada Allah

Allah mengasihi manusia dengan kasih abadi. Kasih-Nya inilah yang telah
menyentuh Santa Skolastika secara mendalam sehingga dalam hatinya berkobar
cinta yang menyala-nyala kepada Allah bahkan sejak ia kecil. Dalam hidupnya
yang tersembunyi, tiada lain yang didambakannya selain kemanisan hubungan
dengan Allah. Ia ingin selalu menyenangkan hati Allah dalam segala hal. ".Orang
yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana
Tuhan berkenan kepadanya." (1Kor.7:32b)

Santa Skolastika mencintai Allah seumur hidupnya. Jalan hidupnya adalah jalan
pencarian menuju Allah yang menjadi sumber sukacitanya. Ia mengatakan bahwa
mencintai Tuhan berarti hidup dalam pencarian akan Allah dan menyerahkan
seluruh kehendak pribadinya kepada Dia.

2.6 Cinta kepada sesama

Cintakasih kepada Allah terukur dari cintakasih kepada sesama. Santa Skolastika
memiliki hati yang tulus dalam mengasihi para susternya dan sesama. Ia
senantiasa memberikan miliknya yang lebih baik dan berharga bagi sesamanya,
sedangkan yang kurang baik dipilihnya untuk dirinya sendiri.

Walau ia masuk ke dalam biara meninggalkan dunia ramai untuk bertapa, namun
hatinya merangkul dunia dan dibawanya beban-beban dunia dalam asap doanya.
"Seorang rubiah yang sejati adalah mereka yang meninggalkan dunia untuk bersatu
dengan dunia."

2.7 Cinta Berdoa

Cintakasih bagaikan semen yang mempersatukan jiwa dengan Allah. Satu-satunya
yang membangkitkan cintakasih kepada Allah tidak lain adalah doa. Santa
Skolastika belajar berdoa sejak kecil dalam keluarganya. Kesetiaan dan
ketekunannya berdoa membuat jiwanya semakin hari semakin dekat dengan Allah.
Dalam doa ia merasakan keintiman dengan Dia dan kemanisan cintakasih ilahi di
dalam Dia.

Bagi Santa Skolastika, doa adalah nafas jiwanya. Hidup siapakah yang masih
dapat bertahan tanpa bernafas? Dalam percakapan tahunan antara Santa Skolastika
dan kakaknya, doa juga selalu mendasari seluruh hari mereka.

Santa Skolastika juga mengatakan bahwa doalah yang memekarkan benih-benih
panggilan dalam dirinya. Doa menumbuhkan Sabda yang tertabur, menuai cinta yang
tertanam. Doa adalah segalanya bagi Sang Santa sehingga tak heran doanya
menembus awan menurunkan hujan. Doa adalah hidupnya, dan hidupnya adalah doa.

2.8 Kemanisan dan Kelembutan

Kemanisan dan kelembutan adalah akar dari kasih. Para susternya mengatakan
bahwa Santa Skolastika sangat halus perangainya, sopan tutur katanya, lembut,
dan sabar. Hal ini tampak ketika ia meminta kakaknya untuk tinggal semalam
lagi. Dalam bahasa Italia ia berkata, "Ti chiedo proprio per favore..." yang
artinya, "Aku mohon kepadamu..." Kata "per favore" yang berarti memohon
merupakan kata yang sopan, yang hanya dipakai orang Italia kepada orang yang
mereka hormati dan segani. Tentu saja jarang sekali dipakai untuk hubungan
kakak beradik. Akan tetapi, Santa Skolastika memakai kata yang sopan itu walau
hanya berbicara dengan kakaknya. Ini menunjukkan budi pekertinya yang luhur
mulia.

Kemanisan dan kelembutannya juga tampak ketika sang kakak menolak permohonannya
untuk tinggal semalam lagi. Menghadapi penolakan itu, Santa Skolastika tidak
bersikeras mendesak, ia hanya diam dan kemudian duduk berdoa.

Santa Skolastika menyadari betapa kebajikan yang satu inilah yang telah
menghantarnya kepada kedamaian. Dalam hatinya bergema Sabda Yesus, "Pikullah
kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah
hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." (Mat.11:29)

2.9 Jenaka

Santa Skolastika memiliki hati yang gembira dan jenaka. Pepatah Eropa
mengatakan humor adalah garam kehidupan. Tanpa kejenakaan hidup menjadi tawar,
sehingga Santo Fransiskus dari Sales mengatakan, "Seorang kudus yang sedih
adalah orang kudus pemurung." Bahkan lebih ekstrem lagi Santo Filipus Neri
berkata bahwa tak ada tempat bagi orang murung di surga.

Kejenakaan Santa Skolastika terungkap ketika ia menggoda kakaknya begitu hujan
badai turun dengan lebatnya. "Aku memohon kepadamu, tetapi tak kaudengarkan.
Akhirnya aku memohon kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan aku. Kalau engkau mau
pulang, boleh saja. Pulanglah, tinggalkan aku sekarang.," kata Santa Skolastika
sambil tersenyum.

2.10 Kerinduan untuk hidup tersembunyi dalam kerendahan hati

Santa Skolastika menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam ketersembunyian di
pertapaannya. Di sanalah ia mengalami Allah, tenggelam di dalam Allah, dan
tersembunyi di dalam Allah. Ia tak senang memamerkan apa pun dari dirinya
karena ia menyadari segala kebaikan yang ada padanya hanyalah rahmat semata. Ia
hanya ingin menundukkan diri, terbenam dalam Tuhan. Di sanalah ia menjalani
hidupnya dalam ketersembunyian dan kerendahan hati.

"Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang
gurun, dan berbicara menenangkan hatinya.Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku
untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan
dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang." (Hos.2:13,18)

2.11 Cinta Keheningan

Keheningan adalah atmosfer doa. Doa merupakan jalinan hubungan pribadi dengan
Allah. Oleh karena itu, untuk dapat mendengarkan suara-Nya jiwa perlu masuk ke
dalam keheningan. Doa yang tidak masuk ke dalam keheningan bukanlah doa, karena
itu hanya akan menjadi hubungan satu arah saja, bukan dua arah timbal balik.

Pertapaan Santa Skolastika diliputi dengan keheningan yang tentram. Sekalipun
jarak antara biara Santa Skolastika dan Santo Benediktus tidak terlalu jauh,
mereka hanya bertemu setahun sekali. Bagi mereka berdua, hubungan dengan Allah
jauh lebih utama daripada hubungan apa pun di dunia ini. Ketika mereka bertemu
pun, sepanjang hari mereka penuhi dengan suasana doa dan percakapan suci.

Keheningan menghantar jiwa kepada kontemplasi. Dalam kontemplasi jiwa dan Allah
saling memandang dalam cintakasih yang murni. Buah-buah kontemplasi inilah yang
kemudian memekarkan bunga-bunga kebajikan dalam diri Santa Skolastika.
Cintakasihnya kepada Allah dan sesama justru semakin berkembang dalam
keheningan.

2.12 Semangat berkurban

Sejak awal pelayanan-Nya, Yesus senantiasa menyerukan pertobatan kepada semua
orang. Ia mewartakan Kerajaan Allah dan mengundang setiap orang untuk masuk ke
dalam kerajaan abadi itu lewat pertobatan.

Santa Skolastika yang telah mempersembahkan hidupnya sejak kecil, telah
terbiasa pula untuk melakukan kurban-kurban sederhana demi pertobatan umat
manusia. Santo Gregorius Agung menulis bahwa dalam pertemuan terakhir dengan
kakaknya, Santa Skolastika hanya makan sedikit saja, itu pun setelah hari
menjelang petang. Berdua dengan kakaknya, ia melakukan puasa dengan hati yang
gembira dan damai. Melakukan kurban-kurban kecil untuk Yesus adalah sukacita
dalam Roh Kudus. Ia mempersembahkan kurban-kurbannya itu dengan hati gembira
karena Allah mengasihi mereka yang memberi dengan sukacita. (bdk. 1 Kor. 9:7)

"Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan
menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk
tubuh-Nya, yaitu jemaat." (Kol.1:24)

2.13 Ketulusan dan Kesucian Hati

Hal yang paling berkesan dari Santa Skolastika bagi para susternya adalah
hatinya yang tulus dan suci bagai merpati. Tak heran ketika meninggal kakaknya
melihat jiwa adiknya terbang ke surga dalam rupa merpati putih. Ketulusan dan
kesuciannya inilah yang telah membuatnya dapat segera memandang wajah Kristus,
Kekasih hatinya.

"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah."
(Mat.5:8)

Kesucian adalah mutiara kebajikan. Kesucian dan ketulusan hatinya ini
diperolehnya dengan senantiasa berkata "Ya" pada setiap kehendak Allah. Baginya
kehendak pribadi sudah tidak penting lagi sehingga tiada pamrih apa-apa lagi
yang membebani jiwanya.

2.14 Devosi kepada Bunda Maria

Santa Skolastika sangat mencintai Bunda Maria. Ia menjadikan Maria sebagai
ibunya karena sejak kecil ibu kandungnya sudah meninggal dunia. Hampir dalam
segala hal Santa Skolastika berusaha mengikuti teladan Bunda Maria, khususnya
dalam kerendahan hati, kesucian, iman, kepasrahan, dan cintakasih yang besar
kepada Tuhan.

Sebagaimana doa Maria yang mengubah air menjadi anggur, demikian pula doa Santa
Skolastika telah mengubah awan menjadi hujan deras. Maria dengan kata "Ya"-nya
kepada Allah telah menjadi Bunda Allah dan Bunda kita semua, demikian pula
Santa Skolastika dengan kata "Ya"-nya telah menjadi ibu bagi banyak jiwa.

(Sumber: Grosso Marianno, Santa Scolastica, Subiaco, 1999)

Sharing:
* Dari beberapa kebajikan yang ada dalam diri Santa Skolastika, kebajikan
manakah yang paling sedikit dalam dirimu?
* Sharingkanlah perjuanganmu dalam memperoleh kebajikan itu.

Comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot )

Last Updated ( Sunday, 29 October 2006 )
 
< Prev   Next >