Written by Rm.I.Sumarya SJ at Saturday, 04 November 2006 (226 hits)
“Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:"Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk14:7-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Karolus Borromeus, Uskup, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
Orang kaya, berkedudukan, pandai/berpengatahuan, terhormat dst..pada umumnya memiliki kecenderungan untuk menjadi sombong, dengan mudah meremehkan atau melecehkan yang lain antara lain dengan melihat dan membicarakan kekurangan dan kelemahan yang lain. Orang sombong pada umumnya juga kurang memberi perhatian pada mereka yang miskin, bodoh dan lemah. Karolus Borromeus adalah seorang uskup di kota Milan; dalam sejarah mereka yang menjadi uskup Milan pada umumnya memiliki peluang untuk menjadi paus. Namun sebagaimana sering dikatakan dan dicoba untuk dihayati para uskup menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina, dan hal itu kiranya menjadi nyata dalam diri Karolus Borromeus. Sebagai uskup ia memperhatikan mereka yang miskin, khususnya pada masa itu adalah mereka yang menderita penyakit pes. Maka menanggapi sabda Yesus hari ini serta meneladan Karolus Borromeus, marilah kita bersikap dan bertindak dengan rendah hati serta memperhatikan mereka yang miskin dan sakit. Tanpa kerendahan hati kiranya kita sulit atau tidak mungkin memperhatikan mereka yang miskin dan sakit secara memadai atau perhatian kita sulit diterima oleh mereka atau bahkan kita akan ditertawakan dan dilecehkan. Memperhatikan dengan rendah hati berarti melayani sebagaimana dihayati oleh para pelayan atau pembantu rumah tangga yang baik. Melayani berarti senantiasa menaruh hormat atau memandang ‘tinggi’ yang dilayani serta berusaha seoptimal mungkin membuat bahagia, damai sejahtera bagi yang dilayani. Pelayan yang baik senantiasa juga jujur, sopan, ceria, siap-sedia, berkorban dan senantiasa tidak marah atau menggerutu ketika memperoleh perlakuan yang kurang enak/.tidak baik dari yang dilayani.
“Aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman, sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.” (Flp1:25-26), demikian kata Paulus kepada umat Filipi yang harus dilayani. Pelayan yang baik memang senantiasa ‘tinggal bersama dengan yang dilayani’ agar setiap saat dibutuhkan dapat dengan cepat dan siap sedia melayani. “Tinggal bersama dan menjadi sama dengan yang dilayani” itulah cara hidup bersama yang membahagiakan, sehingga masing-masing orang semakin beriman atau mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Memang ‘tinggal bersama’ tidak mungkin senantiasa diwujudkan secara phisik, maka kiranya juga dapat dihayati secara rohani atau spiritual, yaitu dengan mendoakan mereka yang harus kita layani. Secara konkret kami mengajak: (1) di dalam keluarga marilah saling mendoakan -> suami berdoa bagi isteri dan sebaliknya, orangtua berdoa bagi anak-anaknya dan sebaliknya, (2) dalam komunitas biara -> pembesar rumah berdoa bagi anggota-anggotanya dan sebaliknya, (3) di kantor atau tempat kerja saling mendoakan sebagai rekan kerja maupun berdoa bagi atasan atau bawahan, dst… Dengan saling mendoakan berarti kita bersama-sama tinggal dalam Tuhan, dan kita kebersamaan secara phisik terjadi maka kebersamaan tersebut sungguh semakin meneguhkan dan memperkuat dalam hal iman. Maka disamping saling mendoakan memang baik sering kita selenggarakan kebersamaan secara phisik, misalnya: makan bersama, pergi bersama, nonton bersama dst…Kebersamaan dalam Tuhan akan melahirkan sesuatu atau hal-hal baru yang tak kita duga sebelumnya, sesuatu atau hal baru yang semakin meneguhkan kebersamaan maupun kehidupan beriman secara pribadi.
“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah” (Mzm42:2-3)
Jakarta, 4 November 2006 Tgl 03 Nov 2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |