Main Menu
Home
About DOJCC
Jadwal Rutin DOJ Bali
DOJ Bali News
International DOJ News
Youth DOJ Bali
Daily Word
Photo Gallery
Photo on Multiply
DOJ Video
Guest Book
Visit DOJ International
100 Photo Comments
Calendar Events
Contact Us
Shout It!


You must login/register to shout!
Get your account here!
Upcoming Events
There are no upcoming events!
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
Who's Online
Hits Counter
Visitors: 131135
Photo Gallery

REKREK_025.jpg
 

RETRET_ANGKATAN_IV_026.JPG
 

REKREASI_25.JPG
 

REKREK_001.jpg
 

WITH_VINCENT_006.JPG
Home arrow Daily Word arrow Engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang benar
Engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang benar PDF Print E-mail
Written by Rm. I . Sumarya S.J at Sunday, 05 November 2006 (208 hits)
Engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang benar
(Flp2:1-4 ; Luk14:12-14)
“Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk14:12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Aneh dan nyata: kepada yang kaya dan berkelebihan diberi lebih banyak daripada yang miskin dan berkekurangan, itulah yang terjadi sekitar pemberian kenangan atau kado pada kesempatan Idul Fitri atau Natal dan Tahun Baru. Dari cara itu muncul kecenderungan untuk korupsi sebagaimana dicermati oleh KPK, sehingga KPK melarang pemberian parcel kepada pejabat pemerintah pada kesempatan hari raya Idul Fitri kemarin. Mengapa kepada yang kaya dan berkelebihan diberi begitu lebih banyak daripada kepada yang miskin dan berkekurangan, karena mereka berharap untuk memperoleh balasan dan mungkin balasan yang akan dilaksanakan oleh penerima kado juga tidak halal alias dibayar dengan korupsi. Dampak dari kebijakan larangan pemberian parcel tersebut adalah banyak orang miskin semakin menderita (para perajin dan buruh parcel). Kebijakan itu muncul karena tindakan sementara orang yang bermental segera memperoleh balasan atau kenikmatan di dunia itu, meskipun untuk itu mereka harus korupsi dan tidak rela. Maka bercermin pada serta menghayati ajakan Yesus sebagaimana tertulis dalam Injil hari ini, marilah kita hayati ‘preferential option for/with the poor’ dalam pemberian sumbangan maupun pelayanan kita, sebagaimana telah dilaksanakan oleh Muhamad Yunus, pakar ekonomi dan bankir dari Bangladesh yang baru saja memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian. “Orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta” kiranya masih cukup banyak di masyarakat atau negara kita: marilah kita berdayakan mereka dengan dan melalui kekayaan atau kemampuan kita. Marilah ‘berjalan menunduk ke bawah’ bukan ‘berjalan menengadah ke atas’ agar kita dapat melihat kenyataan serta bersyukur atas apa yang kita hayati atau nikmati sampai kini, dan kemudian mewujudkan syukur kita dalam tindakan nyata membantu mereka yang miskin, berkekurangan dan menderita di sekitar kita. “Orang-orang miskin selalu ada padamu,” (Mat26:11), demikian sabda Yesus kepada para muridNya, kepada kita semua. Kiranya hanya dengan ‘berjalan menunduk ke bawah’ kita akan melihat orang-orang miskin yang ada di sekitar kita.

“Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Flp2:2-4), demikian nasehat Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua. Nasehat ini kiranya cukup jelas dan bagi kita tinggal menghayati atau melaksanakan dalam hidup sehari-hari, dalam pelayanan dan tugas-tugas kita. Orang yang hanya memperhatikan kepentingan sendiri adalah orang yang berada di pasar alias yang bermental bisnis, entah penjual atau pembeli sama saja. Hanya orang yang ‘mata duwiten’ atau materialistis, cari keuntungan diri sendiri yang dapat bertahan tinggal lebih lama di pasar. Terlalu tinggal lama di pasar, lebih-lebih sebagai pembeli dan kiranya lebih banyak pembeli daripada penjual, akan jatuh bangkrut atau pailit. Sayang mental dan sikap bisnis seperti di pasar ini juga sering terjadi dalam kehidupan di masyarakat maupun Gereja dengan segala bentuk pelayanannya. Marilah dalam bekerja maupun hidup bersama senantiasa kita perhatikan kepentingan orang lain juga, lebih-lebih mereka yang miskin, menderita, bodoh dan berkekurangan. Orang miskin dan berkekurangan sering lebih kaya akan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup daripada orang kaya dan berkelebihan. Marilah kita hayati kesatuan kita sebagai ciptaan Tuhan maupun orang beriman, antara lain dengan dengan saling menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. Ingatlah juga bahwa harta benda atau kekayaan pada dasarnya bersifat sosial, maka semakin kaya akan harta benda berarti semakin kaya akan sahabat dan teman serta dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya.

“TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku”
(Mzm131:1-2)


Jakarta, 6 November 2006
Tgl 05Nov2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J

Comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot )

 
< Prev   Next >