Main Menu
Home
About DOJCC
Jadwal Rutin DOJ Bali
DOJ Bali News
International DOJ News
Youth DOJ Bali
Daily Word
Photo Gallery
Photo on Multiply
DOJ Video
Guest Book
Visit DOJ International
100 Photo Comments
Calendar Events
Contact Us
Shout It!


You must login/register to shout!
Get your account here!
Upcoming Events
There are no upcoming events!
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
Who's Online
Hits Counter
Visitors: 131151
Photo Gallery

agatha_05.JPG
 

KRK_21.JPG
 

Gerald Grace-DOJCC Philippines.JPG
 

RETRET_ANGKATAN_IV_003.JPG
 

Fun Game 3
Home arrow Daily Word arrow Pesona Kitab Suci: Kasih Seorang yang Berdosa
Pesona Kitab Suci: Kasih Seorang yang Berdosa PDF Print E-mail
Written by Sr. Maria Rafaella, P.Karm at Sunday, 05 November 2006 (243 hits)
Yesus sangat mengasihi orang-orang berdosa, karena Dia sendiri
mengatakan bahwa Dia datang ke dunia ini bukan untuk orang-orang
benar, namun untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. (lih. Luk.
5 : 32) Yesus senang bergaul dengan orang-orang berdosa, Ia mau
membawa mereka kepada pertobatan, dan tak sedikit dari mereka
yang setelah mendengarkan Yesus maka berbalik dari cara hidup
yang buruk dan menjadi murid Yesus yang setia.

Pesona Kitab Suci: Kasih Seorang yang Berdosa

(Lukas 7 : 36-52)
Oleh : Sr. Maria Rafaella, P.Karm
Petang itu suasana di dalam rumah seorang Farisi bernama Simon
terlihat amat ramai. Ia mengundang Yesus datang untuk makan
bersama. Saat itu semua yang hadir tampak bersukacita, mereka
saling bercakap-cakap sambil menikmati hidangan yang tersedia.
Namun dengan sekejap suasana sukacita itu berubah, ketika secara
tiba-tiba seorang perempuan muda dengan rambut tergerai panjang
masuk tergesa-gesa, ia berlari mendapati Yesus dan menangis di
kaki-Nya. Ia segera membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan
menyekanya dengan rambutnya. Kemudian dengan penuh kasih ia
menciumi kaki Yesus serta mengoleskan minyak wangi yang
dibawanya. Semua yang hadir melihat dengan tatapan yang tajam,
sebab mereka tahu bahwa perempuan itu adalah seorang pendosa,
seorang pelacur di kota itu. Mereka merasa jijik melihat
perempuan kotor itu ada di tengah-tengah mereka, namun tidak
demikian dengan Yesus.

Saat itu Yesus melihat adanya kasih yang besar terpancar dari
dalam diri perempuan pendosa itu. Yesus memahami dan mengerti
siapa dia, apa yang telah dilakukannya selama ini. Memang benar
bahwa perempuan itu adalah seorang pelacur yang telah hidup dalam
kubangan dosa, namun ia telah memperlihatkan kasih yang besar
yang tidak ditunjukkan oleh orang-orang Farisi di tempat itu.

Ketika Simon berpikir dalam hatinya bahwa Yesus seharusnya tahu
siapa perempuan pendosa itu (ay. 39), maka Yesus pun segera
mengatakan kepadanya sebuah perumpamaan. Dikatakan-Nya bahwa ada
2 orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang, yang satu
berhutang 500 dinar dan yang satu berhutang 50 dinar. Ketika
mereka berdua tidak dapat membayar hutang itu, maka hutang mereka
dihapuskan. Saat itu Yesus bertanya siapakah di antara kedua
orang itu yang akan lebih mengasihi dia, dan Simon menjawab orang
yang berhutang lebih banyak. Yesus pun membenarkan jawaban Simon
itu. (ay. 41-43)

Yesus mengatakan hal tersebut untuk menyadarkan Simon bahwa apa
yang telah diperbuat oleh perempuan yang berdosa itu tak lain
adalah karena kasih yang ada di dalam dirinya, karena kesadaran
bahwa dia seorang pendosa dan butuh belas kasihan Tuhan.
Sedangkan bagi Simon dan orang-orang Farisi yang ada di sana,
mereka merasa bahwa diri mereka telah hidup sesuai dengan hukum
Taurat, hidup suci sebagai orang-orang yang benar, sehingga
mereka tidak lagi merasa membutuhkan belas kasihan dan
pertolongan Tuhan.

Apa yang telah diperbuat oleh perempuan itu melambangkan betapa
manusia yang benar-benar sadar akan kelemahannya, kerapuhannya
dan kedosaannya akan senantiasa berharap akan belas kasihan
Tuhan. Seorang yang menyadari bahwa dirinya berdosa akan selalu
merasa bahwa dirinya tak dapat berbuat apa-apa tanpa belas
kasihan Tuhan. Sedangkan orang yang merasa telah berbuat baik
selama hidupnya, maka dia akan selalu mengandalkan kekuatan dan
kemampuannya sendiri tanpa mempedulikan Allah. Orang-orang
semacam ini tak mempunyai kasih yang besar dalam dirinya. Yang
mereka perhatikan hanyalah kesuksesan dan keberhasilan diri
mereka sendiri.

Yesus sangat mengasihi orang-orang berdosa, karena Dia sendiri
mengatakan bahwa Dia datang ke dunia ini bukan untuk orang-orang
benar, namun untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. (lih. Luk.
5 : 32) Yesus senang bergaul dengan orang-orang berdosa, Ia mau
membawa mereka kepada pertobatan, dan tak sedikit dari mereka
yang setelah mendengarkan Yesus maka berbalik dari cara hidup
yang buruk dan menjadi murid Yesus yang setia. Hal ini pun yang
terjadi dalam diri perempuan berdosa tadi. Ia yang begitu
menyadari kelemahan dan kehinaannya, dengan berani datang kepada
Yesus karena ia percaya bahwa Yesus yang begitu penuh kasih tak
akan menolaknya, Yesus akan menerimanya dan mengasihaninya.
Dengan iman yang hidup maka tanpa malu dan takut ia berlari
mendapatkan Yesus. Perempuan ini menyadari benar bahwa ia
membutuhkan pengampunan Tuhan dan bahwa yang dapat diberikannya
saat itu hanyalah kasihnya yang masih tertinggal di luar dosanya.
Hal ini dipahami secara jelas oleh Yesus, ia melihat kesungguhan
hati perempuan itu, Yesus mengasihinya, Yesus tak menolak dia,
dan dengan tegas Yesus berkata di depan semua orang yang ada di
situ : "Sebab itu Aku berkata kepadamu dosanya yang banyak itu
telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih, tetapi orang
yang sedikit diampuni sedikit juga ia berbuat kasih." (ay. 47)

Perempuan yang telah diampuni dosanya itu kemudian menjadi murid
dan pengikut Yesus yang amat setia, ia dengan penuh kasih
melayani Yesus dan senantiasa mendengarkan setiap ajaran Yesus.
Ia sungguh-sungguh mengubah kehidupannya sehingga ia pun semakin
disempurnakan oleh kasih Tuhan sendiri, kasihnya kepada Yesus dan
sesama pun semakin berkembang.

Apa yang terjadi dalam diri perempuan dalam kisah yang
diceritakan oleh Lukas ini juga dapat kita lihat dalam kehidupan
kita saat ini. Apa yang diperbuat olehnya dapat menjadi bahan
renungan dan refleksi bagi kita masing-masing. Bagaimana sikap
kita selama ini, apakah kita berlaku seperti Simon dan para orang
Farisi lainnya yang merasa diri benar dan suci sehingga
seringkali kita lupa untuk datang kepada Tuhan, dan hanya
mengandalkan diri sendiri. Ataukah kita dapat menjadi seperti
perempuan pendosa yang diampuni itu, ketika kita secara sadar
mengetahui bahwa diri kita ini manusia berdosa yang butuh belas
kasihan dan pengampunan dari Tuhan.

Ada ungkapan bahwa dosa yang paling besar adalah saat orang tidak
menyadari bahwa dirinya berdosa. Rasanya benarlah ungkapan ini,
karena biasanya semakin orang merasa dirinya baik, semakin ia
merasa cukup dan tidak membutuhkan apa-apa termasuk Allah
sendiri. Orang-orang ini akan menutup dirinya dari segala hal
lain tak terkecuali menutup diri dari Allah. Orang-orang seperti
ini akan sulit sekali memberikan kasih kepada orang lain apalagi
kepada Allah, sebab mereka hanya hidup bagi diri mereka sendiri.
Kasih dalam diri mereka menjadi kering. Namun lain halnya dengan
orang-orang yang menyadari keterbatasan dirinya, kedegilan
hatinya, sehingga mereka akan menjadi orang yang akan merasa
paling berdosa dibandingkan orang lain. Seperti halnya orang
kudus kita St. Fransiskus Asisi yang pernah berkata "Tidak ada di
dalam dunia ini yang lebih celaka dan malang selain dari aku."
Perkataan ini dilontarkannya karena ia benar-benar menyadari
dirinya sebagai ciptaan yang tak sempurna, yang masih sering
membuat hati Sang Pencipta bersedih akibat dosa-dosanya. Dengan
kesadaran itu, maka Fransiskus senantiasa mengandalkan Tuhan,
bergantung pada belas kasihan-Nya, dan dengan menyadari bahwa
Tuhan yang penuh kasih itu selalu membuka tangan-Nya dan
memberikan pengampunan, maka kasih yang ada di dalam diri orang
kudus itu pun semakin hari semakin bertumbuh dan berkembang
sehingga ia pun mencapai persatuan cinta kasih yang mesra dengan
Tuhan sendiri.

Hal yang sama juga dialami oleh St. Paulus yang kita ketahui
sebelumnya adalah orang yang hidupnya penuh dengan dosa, yang
kemudian mendapat rahmat Tuhan yang besar sehingga ia bertobat
dan menjadi seorang rasul besar. Paulus berkata bahwa "Kristus
Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di
antara mereka akulah yang paling berdosa." (1 Tim.1 : 15) Paulus
dapat berkata seperti itu karena ia benar-benar menyadari
kelemahannya sebagai seorang manusia berdosa, dan ia telah
mengalami sendiri kasih dan kuasa pengampunan yang diberikan
Tuhan kepadanya, sehingga di kemudian hari ia pun menjadi seorang
yang penuh kasih kepada Tuhan dan sesama. Ia memancarkan kasihnya
sebagai ungkapan pertobatannya dan rasa syukurnya akan belas
kasihan Tuhan yang begitu besar.

Dari semua pengalaman orang-orang kudus dan dari kisah Injil
Lukas di atas kita dapat melihat bahwa kasih itu begitu kuat
kuasanya, begitu besar pengaruhnya sehingga dapat membawa orang
kepada kebahagiaan hidup. Kasih menutupi banyak dosa, jika
seorang memberikan kasih, Tuhan akan melebur dosa dan
kelemahannya, Tuhan akan mengubahnya dan memperbaharui dirinya.
Orang yang dapat mengasihi maka ia akan membuka diri pula untuk
menerima kasih Tuhan, kasih yang penuh pengampunan, dan semakin
ia menyadari besarnya pengampunan yang diterimanya, maka akan
semakin besar pula kasih yang akan keluar dari dalam dirinya.
Semakin besar dosa seseorang, semakin ia membutuhkan pengampunan
Tuhan dan akan semakin besar pula kasihnya kepada Tuhan.

Maka dengan merenungkan dan merefleksikan kisah perempuan berdosa
yang telah mendapatkan pengampunan karena perbuatan kasihnya itu,
kita dapat semakin menyadari siapa diri kita sebagai manusia yang
lemah ini. Kita harus senantiasa ingat bahwa kita ada di dunia
ini bukan karena kemauan kita sendiri, namun kita ada di dunia
ini tak lain adalah karena kasih Allah yang menginginkan kita
ada. Jika kita sebagai manusia yang telah diciptakan-Nya dengan
begitu sempurna dan diciptakan atas dasar kasih, malahan
melupakan Dia dan sibuk dengan diri kita sendiri, maka kita akan
menyedihkan hati-Nya. Kita harus selalu sadar bahwa tanpa Allah
kita tak akan mampu melakukan segala sesuatu yang baik sekalipun.
Jika kita hidup baik, itu semata-mata adalah karena rahmat-Nya
yang memampukan kita berbuat baik. Maka janganlah kita mengira
bahwa jika kita berbuat baik itu adalah karena diri kita yang
sempurna, karena diri kita yang mempunyai kelebihan-kelebihan.
Perasaan seperti itu akan mengikis kasih yang ada dalam diri
kita, dan membuat kita menjadi orang-orang yang sombong dan
kering tanpa kasih. Alangkah ironisnya jika kita sebagai ciptaan
yang dibentuk oleh kasih Allah malahan hidup tanpa kasih itu
sendiri, hidup terpisah dan jauh dari kasih.

Ingatlah bahwa Allah itu adalah kasih, dan kita pun harus
memancarkan kasih-Nya. Maka baiklah kita selalu mengadakan
refleksi dan menyadari kelemahan dan dosa kita, dan dengan rendah
hati mau selalu datang kepada-Nya untuk dibersihkan dari dosa
itu. Allah tak akan menolak kita walaupun kita seringkali berbuat
dosa. Janganlah pernah lupa bahwa pengampunan-Nya tidak terbatas,
dan seperti juga dikatakan bahwa di mana dosa merajalela, di situ
kasih karunia Allah justru berlimpah. Maka marilah kita mau
mengikuti tindakan yang telah dilakukan oleh perempuan dalam
Injil Lukas tadi, yang dengan berani mau mengakui dosa-dosanya,
menyadarinya dan bertobat sungguh-sungguh. Pengampunan yang
diberikan oleh Tuhan akan membawa kita kepada kehidupan yang
penuh kebahagiaan dan kasih. Kasih seorang yang berdosa akan
meluluhkan hati Tuhan dan akan mendatangkan belas kasihan-Nya.

Janganlah takut karena kita berdosa, datanglah kepada Tuhan dan
terimalah rahmat pengampunan-Nya dengan hati terbuka dan
berikanlah kasih yang besar kepada-Nya. >


Sharing :
* Pernahkah Anda bersikap seperti orang Farisi yang selalu merasa
benar dan selalu melihat dosa-dosa orang lain? Bagaimanakah Anda
menyadarinya, dan apa yang Anda lakukan untuk mengatasinya?
Sharingkanlah pengalaman Anda
* Yesus tidak pernah menutup hati untuk orang-orang berdosa. Jika
Anda berada dalam posisi si perempuan pendosa dalam Injil Lukas
ini, apa kira-kira yang akan Anda perbuat di hadapan Yesus?
Sharingkanlah hal itu dengan teman-teman Anda


( VacareDeo )

 

Comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot )

 
< Prev   Next >