Main Menu
Home
About DOJCC
Jadwal Rutin DOJ Bali
DOJ Bali News
International DOJ News
Youth DOJ Bali
Daily Word
Photo Gallery
Photo on Multiply
DOJ Video
Guest Book
Visit DOJ International
100 Photo Comments
Calendar Events
Contact Us
Shout It!


You must login/register to shout!
Get your account here!
Upcoming Events
There are no upcoming events!
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
Who's Online
Hits Counter
Visitors: 131164
Biarkan Tuhan Tetap Sebagai Tuhan PDF Print E-mail
Written by Friar Jack Wintz, OFM at Thursday, 09 November 2006 (331 hits)

Sisi mana pada relasi doa itu yang lebih penting?Pada partner doa yang mana harus kita berikan kepentingan yang lebih besar? Hal itu sesungguhnya tak perlu dipikir lagi bukan? Manusia mencapai kepenuhan doa bukan saat ia mengekspresikan dirinya, melainkan saat ia membiarkan Tuhan hadir sepenuhnya dalam doa."

Biarkan Tuhan Tetap Sebagai Tuhan
(Letting God Be God)
 

Oleh: Friar Jack Wintz, OFM
.


Kebanyakan kita setuju, saya pikir, bahwa doa pribadi dapat digambarkan sebagai suatu pembicaraan (dialog) antara dua pihak - pihak diri kita dan Tuhan. Bicara tentang diri saya sendiri, saya kerap menemukan bahwa saya lebih menitikberatkan kepentingan pihak saya sendiri dalam percakapan tersebut daripada kepentingan pihak Tuhan. Saya pikir, saya harus lebih tanggungjawab, mencoba lebih keras, lebih mengencangkan jari jemari saya supaya saya dapat berdoa dengan lebih intensif. Dan yah, tentunya benar bahwa kita manusia harus memberi usaha terbaik bagi doa kita dan berdoa dengan segenap hati kita.

Tetapi baiklah kita berhenti sejenak dan berpikir. Mari kita lihat pada kedua sisi pada "persamaan" doa ini, yang sebenarnya sama sekali bukan suatu "persamaan" (atau relasi dari pihak yang setara). Kemudian baik kita tinjau kepentingan relatif dan kuasa serta kapasitas cinta dari kedua partner doa ini. Pada sudut ini ada "aku kecil", sepotong kecil tanah liat yang Tuhan dalam kerahimanNya telah memberikan suatu kehidupan manusia dan kemampuan akal yang terbatas. Pada ujung lain berada Tuhan dari kehidupan yang tak terbatas, kebijaksanaan, energi dan cinta - sang Pencipta dari segenap galaksi.

Sekarang mari kita ajukan pertanyaan kita lagi: Sisi mana pada relasi doa itu yang lebih penting? Pada partner doa yang mana harus kita berikan kepentingan yang lebih besar? Hal itu sesungguhnya tak perlu dipikir lagi bukan? Bila kita dengan teliti menganalisis kehidupan doa pribadi kita, tentunya kita mungkin memperhatikan bahwa kita seringkali memberikan kebanyakan daripada perhatian kita kepada partner yang keliru. Santo Fransiskus dari Assisi mengajarkan kita suatu cara yang baik untuk merefleksikan hubungan kita dengan Tuhan. Ia mengungkapkan perasaan dirinya sendiri yang sehat tentang kebesaran Tuhan dan kekerdilan dirinya sendiri, saat ia dengan suatu perasaan takzim yang besar dalam doanya bertanya: "Siapakah Engkau, Tuhanku, dan siapakah saya ini?

Paus Yohanes Paulus II adalah seorang mentor yang baik

Untuk selanjutnya saya akan berpegang pada refleksi Paus Yohanes Paulus II tentang doa untuk pikiran ini lebih jauh dengan mensharingkan bagi anda suatu tulisan dari buku saya A Retreat With Pope John Paul II: Be Not Afraid. Buah-buah pikiran Paus berasal dari buku best sellernya yaitu Crossing the Treshold of Hope. Buku itu ditulis dalam bentuk tanya-jawab oleh seorang jurnalis Italia Vittoria Messori. Mati kita segera nyemplung ke dalamnya. Inilah kutipan dari buku saja.

Messori minta paus. menerangkan bagaimana seseorang dapat terlibat dengan baik dalam doa dan dialog dengan Kristus. "Mungkin pantas mulai dengan Surat Paulus kepada umat Roma, jawab Paus. Rasul itu langsung masuk ke inti masalah saat menulis: "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (cf. Rm 8:26) Paus menerangkan bahwa doa "umumnya dibawa menjadi suatu percakapan. Di dalam percakapan selalu ada suatu "aku" dan suatu "engkau". Dalam kasus ini suatu Engkau dengan huruf E besar. Bila pada permulaan "aku" tampaknya menjadi unsur yang paling penting di dalam doa, doa mengajarkan bahwa situasinya sesungguhnya berbeda sekali. "Sang Engkau adalah lebih penting, karena doa kita mulai dengan Tuhan." Ini adalah apa yang Paulus ingin katakan kepada kita, jelas Paus, dalam kutipan suratnya kepada umat di Roma. Pihak yang mengambil peran pimpinan dalam doa atau pembicaraan ini adalah Tuhan. "Dalam doa, maka pelopornya yang benar ialah Tuhan. Pelopor itu Kristus. Pelopor itu Roh Kudus, yang "datang untuk menguatkan yang lemah". Kita mulai berdoa, dengan percaya bahwa inisiatif kitalah yang mendorong kita berbuat demikian. Padahal, kita belajar bahwa senantiasa itu adalah inisiatif Tuhan yang diam di dalam diri kita, persis seperti yang ditulis oleh Paulus." Paus menekankan kembali titik pandangannya menjelang akhir bab saat ia berkata dalam ringkasan singkat: " Manusia mencapai kepenuhan doa bukan saat ia mengekspresikan dirinya, melainkan saat ia membiarkan Tuhan hadir sepenuhnya dalam doa."

Menutup Suatu Doa

Doa berikut ini juga dikutip dari buku A Retreat with Pope John Paul II: "Dalam kebaikanMu, Tuhan Yesus Kristus, bawalah iman kami kepada suatu tingkat baru sedemikian rupa sehingga doa kami - kapasitas kami untuk berkomuni dengan Engkau - dapat dengan sendirinya meningkat kepada suatu tingkatan baru. Paus Yohanes Paulus II telah mengajar kami bahwa, dalam suatu percakapan mesra yang dikenal sebagai doa, peran dan inisiatif Engkau adalah lebih penting daripada peran kami sendiri. Bantulah kami, Yesus, untuk lebih tunduk kepada kuasa dan kasihMu dan dorongan dari Roh KudusMu sehingga kami boleh melayani Engkau dalam suatu tingkat baru yang lebih berani. Kami memohon ini dalam namaMu yang kudus. Amin." (JS)
.


Diterjemahkan bebas oleh: Juswan Setyawan

http://www.geocities.com/peace_and_all_good/art_biarkan.htm


Comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot )

 
< Prev   Next >