| Document |
|---|
|
|
| Shout It! | |
|---|---|
|
| Upcoming Events |
|---|
| There are no upcoming events! |
| Login Form |
|---|
| Who's Online |
|---|
| We have 20 guests online |
| Hits Counter |
|---|
| Visitors: 373077 |
| Kami adalah hamba yang tidak berguna |
|
|
|
|
Written by Rm.I. Sumarja SJ at Monday, 13 November 2006 (933 hits) “Kami adalah hamba yang tidak berguna” (Tit2:1-811-14 ; Luk17:7-10) "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Luk17:7-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yosef Pignatelli, imam Yesuit, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: “Everything is given” (Segala segala sesauatu adalah anugerah/pemberian). Hidup kita serta semua yang kita miliki, kuasai atau ‘menempel pada diri kita’ adalah pemberian/anugerah. Tugas pekerjaan atau jabatan pelayanan apapun adalah anugerah Allah melalui sesama kita. Memang untuk memperoleh tugas atau jabatan atau pekerjaan kita berusaha untuk melamar sekuat tenaga, namun akhirnya yang terjadi adalah kita diberi tugas, jabatan atau pekerjaan. Dengan kata lain kita semua memang hamba-hamba yang ‘hanya melakukan apa yang kami harus lakukan’. Karena tugas, jabatan atau pekerjaan tersebut bukan milik kita sepenuhnya maka baiklah kita lakukan dan hayati sebaik mungkin sesuai dengan harapan atau cita-cita yang memberi tugas, jabatan atau pekerjaan. Salah satu cara agar dapat berhasil dengan baik antara lain melakukan atau menghayati tugas, jabatan dan pekerjaan sesuai dengan tatanan atau aturan yang terkait, tidak menurut selera sendiri ataupun ‘like atau dislike’. Sebagai pekerja atau pelajar/mahasiswa berusaha seroptimal mungkin bekerja atau belajar sesuai dengan tatanan atau aturan yang terkait, rasanya akan mahir dalam bekerja maupun belajar. Demikian juga dalam menghayati hidup sebagai orang beriman: marilah hidup sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Kehendak Sang Pencipta antara lain : "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."(Kej1:28). Secara konkret kehendak ini dapat kita hayati dengan ‘budaya kehidupan’ alias senantiasa memperjuangkan dan mempertahankan hidup sejati sebagai anugerah Allah dan kita berantas aneka bentuk ‘budaya kematian’ seperti aborsi/pengguguran, permusuhan, tawuran, benci, marah, ‘ngambeg/ ndableg’, sabotase, kebohongan dst… Karena segala sesuatu adalah anugerah atau pemberian, kiranya cara hidup atau cara bertindak kita senantiasa seperti orang yang baru saja menerima anugerah atau pemberian: berterima kasih, gembira, ceria dan bersyukur. “Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini” (Tit2:12), demikian peringatan atau pesan Paulus kepada Titus. Peringatan atau pesan ini kiranya yang juga dihayati dan diusahakan oleh Yosef Pignatelli, yang begitu mempercayakan diri pada Peyelenggaraan Ilahi dalam rangka ‘restorasi tubuh Serikat Yesus’ pada jamannya. Bentuk restorasi atau pembaharuan macam apa yang diharapkan, kiranya item-item yang dipesankan oleh Paulus kepada Titus hari inilah yang disampaikan dan sampai kini masih up to date atau memadai. Maka berikut saya kutipkan pesan atau peringatan-peringatan tersebut: (1) Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan, (2) Perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang, (3) Orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita. “Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur. Tentang perbuatan manusia, sesuai dengan firman yang Engkau ucapkan, aku telah menjaga diriku terhadap jalan orang-orang yang melakukan kekerasan” (Mzm17:3-4) Jakarta, 14 November 2006 Tgl 13Nov2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J
Only registered users can write comments. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |
|||
| < Prev | Next > |
|---|