| Document |
|---|
|
|
| Shout It! | |
|---|---|
|
| Upcoming Events |
|---|
| There are no upcoming events! |
| Login Form |
|---|
| Who's Online |
|---|
| We have 16 guests online |
| Hits Counter |
|---|
| Visitors: 373076 |
| Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini |
|
|
|
|
Written by Rm.I. Sumarja S.J at Thursday, 16 November 2006 (870 hits) Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini (Flm7-20 ; Luk17:20-25) “Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini” (Luk17:20-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Rochus Gonzales dkk, imam dan martir Yesuit, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: Kerajaan Allah memang berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan Kerajaan Dunia. Raja dunia ini gila akan harta, pangkat/kedudukan dan hormat dan untuk memenuhi kegilaannya ia berusaha dengan berbagai cara sesuai dengan selera atau keinganannya, meskipun untuk itu membuat banyak orang/rakyatnya menderita. Begitulah yang terjadi: Raja dunia sering menyengsarakan rakyatnya enak saja, tanpa merasa bersalah atau berdoa. Sedangkan raja yang menghayati fungsinya dijiwai oleh Kerajaan Allah atau Allah yang meraja akan terjadi sebaliknya: ia harus menanggung banyak penderitaan demi rakyatnya. Apakah kita raja? Rasanya masing-masing dari kita adalah raja juga. Raja berarti yang berkuasa penuh atas suatu (barang, wilayah/daerah, orang dst..); bukankah kita ada yang menjadi ‘raja dapur’(yang menguasai dapur), ‘raja keluarga’ (yang menguasai keluarga), ‘raja ilmu, keterampilan dan kepandaian’, ‘raja gudang’ dst…? Dengan kata lain apapun tugas pekerjaan atau jabatan pelayanan atau fungsi kita, kita adalah ‘raja-raja kecil’, maka dari itu marilah kita menghayati fungsi raja itu dengan meneladan Yesus, yang harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak angkatan ini. Artinya kita hayati dan laksanakan tugas pekerjaan, jabatan pelayanan atau fungsi kita dengan semangat pelayanan/melayani. Bukankah mereka yang disebut ‘pelayan atau pembantu rumah tangga’ harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak angkatan ini/yang dilayani untuk memperoleh balas jasa atau imbalan demi kesejahteraan atau keselamatan hidupnya? Kebabagiaan sejati terdapat dalam hidup melayani sesama di manapun dan kapanpun; melayani berarti berusaha membuat bahagia, damai sejahtera mereka yang dilayani. Imam adalah pelayan, dan kita semua kiranya juga memiliki jabatan imamat umum kaum beriman. “Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri. Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku “(Flm17-18), demikian kutipan sapaan Paulus kepada Filemon. Siapakah ‘dia’ yang harus diterima oleh Filemon? “Dia” itu adalah Onesimus, seorang budak dan Filemon sebagai atasan Onesimus, budak, diharapkan atau diingatkan agar menerima Onesimus dengan penuh cintakasih. Budak atau pesuruh atau pembantu rumah tangga pada umumnya ketika ia melayani dengan baik dibiarkan saja alias dianggap biasa, begitulah adanya, tetapi kita ia melayani dengan tidak baik menjadi pembicaraan atau bahan kemarahan tuan-tuannya, bahkan ada yang dipukul, disakiti sampai dibunuh, karena ia dinilai telah merugikan keluarga/yang dilayani. Kiranya kebanyakan dari kita juga memiliki pelayan atau pembantu rumah tangga, yang secara kasar sering disebut ‘budak’. Marilah kita bersikap penuh cintakasih terhadap para pelayan atau pembantu rumah tangga. Bukankah tanpa kehadiran mereka kita sungguh merasa menderita, sebagaimana dialami banyak orang pada hari-hari Lebaran atau Idul Fitri kemarin? Ketika mereka tiada begitu besar nilai dan penghargaannya, tetapi ketika mereka berada di depan kita sering kita bersikap apatis; cara bertindak demikian jelas tidak benar. Marilah kita hargai dan hormati para pelayan atau pembantu rumah tangga kita sebagaimana Allah telah menghormati dan mengasihinya. Allah tidak membeda-bedakan pangkat, kekayaan atau kehormatan, melainkan semuanya dikasihi dan dijunjung tinggi. Jika kita sungguh beriman, marilah kita tidak terjebak untuk membeda-bedakan orang/sesama menurut SARA, kekayaaan, pangkat/kedudukan atau kehormatan. Kita semua adalah sama-sama ciptaan Allah, sama-sama manusia, sama-sama beriman, sama-sama menghendaki selamat, damai sejahtera.; marilah kita hayati secara mendalam apa yang sama, maka yang berbeda akan fungsional untuk hidup bersama. “Yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya” (Mzm146:7-9) Jakarta, 16 November 2006 Tgl 15Nov2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J
Only registered users can write comments. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |
||
| < Prev | Next > |
|---|