Written by Rm.I. Sumarya, S.J at Monday, 27 November 2006 (341 hits)
“Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (Luk21:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
Ketika saya terlibat dalam kegiatan pengumpulan sumbangan untuk membantu korban tsunami Aceh di kantor KWI, saya juga ikut bongkar-bongkar bungkusan sumbangan maupun angkut-angkut. Menarik perhatian saya ketika bersama-sama menseleksi pakaian-pakaian layak pakai yang akan dikirimkan: rumusan layak pakai rasanya ditafsirkan seenaknya. Cukup banyak sumbangan berupa pakaian yang saat itu terpaksa disortir dan tidak dikirimkan ke Aceh, maklum yang kita sortir tersebut nampak bahwa pakaian yang disumbangkan tdak lain adalah ‘sampah’ alias tidak layak pakai; ada kemungkinan penyumbang membersihkan almari pakaian atau gudang dan dalam hati berkata “Daripada memenuhi almari atau gudang lebih baik disumbangkan/dibuang”. Saat itu kita jumpai yang sungguh tak masuk akal untuk disumbangkan, misalnya: jubah prodiakon yang sudah kotor dengan stolanya, pakaian yang sudah berjamur dst.. Rasanya masih cukup banyak ‘orang-orang kaya’ sebagaimana diwartakan dalam kitab suci hari ini: memberi dari kelimpahannya alias membuang sampah seenaknya, menjadikan si penerima ‘kotak sampah’. Maka kepada mereka yang masih bermental atau bersikap demikian itu kami ingatkan: marilah bertobat dan memperbaharui diri. Hendaknya kita mawas diri dengan meneladan Yesus Kristus, Raja Semesta Alam, yang kemarin kita rayakan, dimana sebagai Raja Ia mempersembahkan DiriNya secara total di puncak kayu salib demi keselamatan seluruh bangsa manusia, dengan kata lain menjadikan DiriNya “Korban alias Tempat Sampah, tempat menampung dan menanggung dosa-dosa manusia/dunia”. “Lebih baik ditipu daripada menipu”, demikian salah satu prinsip hidup Bapak Justinus Kardinal Darmajuwana Pr, alm. Bagi kita mungkin boleh meneladan hal itu :”Lebih baik menjadi korban daripada mengorbankan yang lain/sesama, lebih baik diejek dan direndahkan oleh daripada merendahkan yang lain/sesama , dst..”. Kita juga boleh meneladan raja muda Salomo yang mohon pengertian atau kebijakan dalam jabatannya dan dikabulkan oleh Allah : "Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian” (1Raj3:11-12)
“Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela”(Why14:4b-5) Sebagai murid-murid atau pengikut-pengikut Yesus Kristus, Raja Semesta Alam, kita semua dipanggil untuk mengikutiNya kemana Ia pergi alias senantiasa mengikuti dorongan dan suara Roh Kudus, sehingga kita menjadi orang tak berdusta dan tidak bercela dan cara hidup atau cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh Kudus, yaitu : “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal5:22-23). Keutamaan-keutamaan ini rasanya yang menjadi ciri khas Raja Semesta Alam, yang dapat kita mohon dari kemurahan HatiNya. Keutamaan-keutamaan ini rasanya juga menjadi kebalikan dari mental ‘memberi dari kelimpahannya’. Rasanya kita semua telah menerima keutamaan-keutamaan tersebut secara melimpah ruah melalui sesama kita, lebih-lebih orangtua, bapak-ibu kita masing-masing dan mungkin terutama dan pertama-tama dari ibu, kasih ibu. Marilah kita berterima kasih dan beryukur atas kasih ibu tersebut dengan menghayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh Kudus sebagaimana kami kutipkan di atas atau meneladan janda miskin yang “memberi seluruh nafkahnya”. Lupa akan atau mengingkari kasih ibu hemat saya akan menjadi pribadi-pribadi yang bermental “memberi dari kelimpahannya”. Kasih ibu rasanya sungguh diwujudkan dengan ‘memberi dari kekurangannya’.
“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.” (Mzm24:1-2)Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |