Written by Rm. I . Sumarya , S.J at Wednesday, 29 November 2006 (327 hits) (Why14:14-20 ; Luk21:5-11)
“Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus:"Apa yang kamu lihat di situ -- akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan." Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?" Jawab-Nya: "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera." Ia berkata kepada mereka: "Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit” (Luk21:5-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
Calon pemimpin (presiden, gubernur, bupati dst..) ketika sedang berkampanye dengan berkobar-kobar menjanjikan akan memperhatikan mereka yang miskin, terlantar dan menderita, jika terpilih menjadi pemimpin. Untuk memperhatikan kelompok ini memang butuh uang atau dana, dan untuk itu sang pemimpin harus mengusahakannya. Salah satu jalan/cara atau mungkin satu-satunya opsi adalah minta dana/uang kepada para pengusaha. Mungkin para pengusaha sebelum didekati sang pemimpin lebih dulu dengan jeli mendekati sang pemimpin dan berkata: “Anda sebagai pemimpin harus memperhatikan mereka yang miskin, terlantar dan menderita dan rasanya butuh dana/uang. Kami siap membantu, dengan catatan tolong kami diberi proyek-proyek”. Singkat cerita kiranya terjadilah kolusi antara penguasa/pemimpin rakyat dengan pengusaha serta melupakan rakyat sebagaimana dijanjikan. Harta benda/uang, pangkat/kedudukan, jabatan memang perlu untuk hidup sejahtera, namun ketika orang sudah terbius olehnya pada umumnya lupa akan makna dan maksus harta benda/uang, pangkat/kedudukan dan jabatan: sarana menjadi tujuan. Hutan digunduli, area resapan air diurug atau diratakan untuk proyek, pantai di reklamasi, tanah-tanah ditutupi beton dst.. , dan itu semua terjadi karena kolusi antara pejabat dengan pengusaha. Dampaknya memang sungguh mengejutkan dan dahsyat sebagaimana telah kita alami atau saksikan: banjir bandang, kekeringan, lumpur panas PT Lapindo yang tak berkesudahan dst…yang mengakibatkan rakyat kecil, miskin dan terlantar semakin menderita dan sengsara. Maka bercermin dari sabda hari ini marilah kita hayati dan sebarluaskan ajakan untuk ‘ber ‘habitus’ baru’, yaitu senantiasa memihak dan bersama dengan rakyat. Paradigma untuk senantiasa berpihak pada rakyat kiranya akan membuat kita waspada dan bijak , tidak mudah disesatkan oleh harta benda/uang, pangkat/kedudukan maupun jabatan.
"Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak." (Why14:15). Kutipan ini rasanya layak kita renungkan dan refleksikan. Perintah ini diarahkan kepada para malaikat dan ‘pohon anggur yang telah menghasilkan buah masak’ rasanya kita semua, orang-orang beriman. Dengan kata lain kita dipanggil untuk mawas diri: apakah kita telah memiliki iman dewasa dan mendalam sehingga menghasilkan buah masak dan ketika diperas mengeluarkan ‘darah’ yang berarti ketika bekerja atau bertindak membuat sesama kita semakin hidup dan beriman? Apakah kita sungguh telah dirajai atau dikuasai oleh Yesus Kristus, Raja Semesta Alam? Bagaimana perjalanan hidup iman kita sepanjang tahun liturgy yang akan segera berakhir atau berganti? Jika selama perjalanan hidup beriman kita senantiasa kita waspada, rasanya hidup beriman kita semakin masak dan berbuah. Maka mungkin baik sebagai refleksi kita mawas diri antara lain dengan analisa SWOT atau KEKEPAN (Kekeuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman). Apa yang telah kita peroleh berupa kekuatan atau kelebihan atau keberhasilan kita syukuri dan kita jadikan modal untuk semakin memperkuat dan mengatasi kelemahan sesuai dengan peluang-peluang yang ada dan kita lihat serta menghadapi ancaman-ancaman masa depan. Apa yang kita temukan dengan waspada atau ‘awas’ kita jadikan program kegiatan di masa Advent yang segera akan kita masuki. Kemahiran untuk menganalisa ini akan terwujud jika kita tidak melupakan kegiatan ‘pemeriksaan batin’ setiap hari. Dengan pemeriksaan batin kita terdidik untuk menjadi semakin waspada dan bijak.
“Katakanlah di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran." Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya “ (Mzm96:10-13).
Jakarta, 28 November 2006 Tgl 27Nov2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot ) |