Main Menu
Home
About DOJCC
Jadwal Rutin DOJ Bali
DOJ Bali News
International DOJ News
Youth DOJ Bali
Daily Word
Photo Gallery
Photo on Multiply
DOJ Video
Guest Book
Visit DOJ International
100 Photo Comments
Calendar Events
Contact Us
Shout It!


You must login/register to shout!
Get your account here!
Upcoming Events
There are no upcoming events!
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
Who's Online
Hits Counter
Visitors: 131154
Kalau kamu bertahan akan memperoleh hidupmu PDF Print E-mail
Written by Rm. I. Sumarya S.J at Wednesday, 29 November 2006 (317 hits)

(Why15:1-4 ; Luk21:12-19)

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk21:12-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Hidup baik dan setia pada panggilan, tugas perutusan maupun sumpah dan janji memang tak akan terlepas dari aneka macam tantangan dan hambatan, apalagi dalam zaman yang masih diwarnai oleh aneka bentuk kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan saat ini., misalnya korupsi. Bentuk korupsi yang sulit dideteksi apalagi dijiwai oleh kolusi dan manipulasi antara lain: mark-up anggaran proyek maupun perrencanaan struktur bangunan (jalan, slokan dst.), peraturan yang tidak adil dan dibuat demi keuntungan orang-orang tertentu (pajabat atau petinggi), dll.. Aneka bentuk korupsi rasanya telah dibina sedini mungkin di sekolah/masa pendidikan ketika para peserta didik/mahasiswa dibiarkan menyontek dalam ulangan maupun ujian. Dalam situasi saat ini di kantor-kantor atau tempat kerja: orang yang baik, setia dan jujur sering menjadi ‘sorotan’ atau merasa diperhatikan terus menerus serta merasa dirinya bagaikan ‘di ujung tanduk’. Proficiat dan syukur serta terima kasih kepada rekan-rekan yang mengalami demikian itu, karena hal itu berarti anda diperhatikan terus menerus alias dikasihi oleh banyak orang. Maka kami berharap anda terus bertahan dalam situasi berada ‘di ujung tanduk’ dan sementara itu orang-orang lain berada ‘di bawah tanduk’: percayalah dan hayatilah sabda Yesus : “Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu….Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu”. Di hari-hari terakhir Tahun Liturgi ini kiranya kita semua dipanggil untuk mawas diri: “Sejauh mana kita tetap bertahan dalam panggilan, tugas perutusan/pekerjaan atau jabatan dengan baik dan jujur, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka tantangan dan kesulitan yang membuat kita bagaikan berada ‘di ujung tanduk’?” Refleksikan: berada ‘di ujung tanduk’ berarti berada di ketinggian dan dengan demikian dapat melihat secara keseluruhan, yang dapat mendorong kita untuk ‘berpikir global dan bertindak lokal” (think globally, act locally). Kita diberi kesempatan untuk berwawasan luas dan kemudian mengambil sikap dan tindakan tepat dan memadai sesuai dengan kondisi dan situasi kita masing-masing.

"Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa! Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu” (Why15:3-4), demikian nyanyian merdu dari hamba Allah. Sebagai orang-orang beriman kiranya kita semua juga boleh disebut sebagai ‘hamba-hamba Allah’. Hamba berarti sesorang yang taat dan setia pada tuannya dan hanya mengerjakan apa saja yang diperintahkan atau diminta oleh tuannya. Ketaatan dan kesetiaan itulah keutamaan-keutamaan yang dihayati oleh para hamba. Jika seorang hamba dapat mengerjakan dengan baik apa yang diperintahkan atau diminta tuannya ia pasti berbahagia dan kemudian akan mengidungkan nyanyian hamba Allah sebagaimana kami kutipkan di atas. Maka baiklah kita mawas diri: sejauh mana kita berani dengan gembira dan merdu mengidungkan nyanyian hamba Allah di atas? Mengidungkan nyanyian di atas berarti mengakui dan menghayati karya Allah di dalam seluruh ciptaanNya atau Allah yang menguasai dan merajai seluruh ciptaanNya. Secara konkret berarti: apapun yang kita kerjakan atau lakukan menjadikan kita dan sesama kita semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Raja Semesta Alam sungguh hidup dan berkarya dalam seluruh ciptaanNya, lebih dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Ketaatan dan kesetiaan rasanya menjadi buah orang yang dirajai oleh Allah; ketaatan dan kesetiaan merupakan keutamaan-keutamaan yang up to date dan mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam hidup sehari-hari pada masa kini.

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.” (Mzm98:1-2)

Jakarta, 29 November 2006
Tgl 28Nov2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J

Comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment 2.0 ( + SecureBot )

 
< Prev   Next >